Warga Jombang Wajib Tahu Penyebab Kematian Pasien COVID-19 Tinggi

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 18:18 WIB
RSUD Jombang
RSUD Jombang (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Jombang -

BNPB merilis Kabupaten Jombang masuk 10 besar daerah penyumbang kematian COVID-19 tertinggi di Indonesia. Tingginya kematian pasien Corona di Kota Santri akibat keterlambatan penanganan medis.

Hingga 4 Agustus 2021, terdapat 9.795 warga Kabupaten Jombang terinfeksi COVID-19. Terdiri dari 7.278 pasien sembuh, 1.204 pasien meninggal dunia, serta 1.313 pasien dalam perawatan.

Direktur RSUD Jombang dr Pudji Umbaran mengatakan, pasien COVID-19 yang masuk membludak sejak akhir Juni 2021. Sampai saat ini, pihaknya merawat sekitar 1.000 pasien Corona. Dari jumlah itu, 120 pasien meninggal dunia.

"Sekitar 40 pasien yang datang setiap harinya itu harus kami layani maksimal. Jumlah tempat tidur kami tambah dari Juni hanya 67, akhir Juli kami punya 367 bed khusus pasien COVID-19," kata dr Pudji kepada wartawan, Kamis (5/8/2021).

Tingginya kematian kasus Corona, lanjut dr Pudji, akibat sebagian besar pasien datang ke RSUD Jombang dalam kondisi kritis. Menurut dia, pasien datang dengan saturasi oksigen di bawah 80 persen. Bahkan tak sedikit yang saturasinya hanya 40-60 persen saja.

Ditambah lagi adanya penyakit penyerta atau komorbid yang selama ini diderita pasien. Banyaknya pasien yang datang dalam kondisi kritis membuat petugas medis kesulitan menyelamatkan nyawa mereka.

Kondisi ini dipicu ketakutan masyarakat yang datang ke rumah sakit atau puskesmas. Sehingga warga Jombang yang positif COVID-19 memilih isolasi mandiri (isoman) di rumah masing-masing.

"Keterlambatan dibawa ke rumah sakit akibat isoman yang dilakukan masyarakat tanpa pengawasan ideal dari nakes. Mereka tak tahu kalau kondisinya sudah kritis. Harapan kami masyarakat mengikuti program pemerintah isolasi terpusat (isoter) di masing-masing kecamatan. Sehingga saat kondisinya memburuk, baik saturasi maupun komorbidnya bisa segera dirujuk ke rumah sakit untuk menghindari kematian," cetusnya.

Tingginya kematian kasus COVID-19 juga terjadi di RSUD Ploso, Jombang. Selama Juli 2021, rumah sakit milik pemerintah ini merawat 244 pasien Corona. Dari jumlah itu, 75 pasien meninggal dunia.

Yang membuat miris adalah, 65 jiwa atau 86,7 persen pasien meninggal dunia akibat terlambat dibawa ke rumah sakit. Mereka datang ke rumah sakit dalam kondisi kritis sehingga meninggal dunia sebelum 48 jam menjalani perawatan. Hanya 10 jiwa atau 13,3 persen pasien yang meninggal lebih dari 2 hari di rumah sakit.

"Itu menunjukkan kualitas rujukan jelek. Artinya datang sudah terlambat. Rata-rata saturasi di bawah 80 persen. Jadi, pasien datang keluhan utama napasnya sudah sesak. Juga karena penyakit penyerta," jelas Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jombang sekaligus Direktur RSUD Ploso dr Achmad Iskandar Dzulqornain.

Sebagai Ketua IDI Jombang ia mengimbau masyarakat yang positif COVID-19 memanfaatkan fasilitas isoter atau rumah sehat yang disiapkan pemerintah di masing-masing kecamatan. Karena isoman berbahaya dilakukan tanpa pengawasan nakes.

"Rumah sehat atau isoter sudah benar untuk mencegah isoman. Tinggal dilihat pelaksanaannya berjalan baik dan efektif apa tidak," tandas dr Iskandar.

(fat/fat)