Volume Kendaraan di Surabaya Turun hingga 60 Persen Selama PPKM

Esti Widiyana - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 11:47 WIB
penyekatan di bundaran waru saat ppkm
Penyekatan di Bundaran Waru (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Selama PPKM Darurat 3 Juli hingga diperpanjang 9 Agustus, volume kendaraan di Surabaya menurun. Ini karena ada penyekatan di beberapa titik sehingga mengurangi pergerakan kendaraan di jalan-jalan.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya mencatat, hingga PPKM level 4 diberlakukan, terdapat penuruan volume kendaraan hingga 60 persen.

"Hasil evaluasi selama penyekatan PPKM darurat 3 Juli hingga PPKM level 4, 30 Juli volume kendaraan turun kisaran 60 persen," kata Kadishub Surabaya, Irvan Wahyudrajad saat dihubungi wartawan, Kamis (5/8/2021).

Irvan menyebut, mobilitas warga dalam berkendara berkurang sejak hari kedua PPKM darurat. Pihaknya mencatat, seperti di Jalan Ahmad Yani pada 3 Juli volume kendaraan yang masuk Kota Surabaya ada 4.709 mobil, 11.949 motor, dan 160 truk. Sedangkan kendaraan yang keluar mencapai 7.736 mobil, 23.018 motor, 296 truk.

Kemudian pada tanggal 4 Juli, volume kendaraan yang masuk ke Surabaya melewati Jalan Ahmad Yani turun menjadi 4.344 mobil, 11.023 motor, 148 truk. Sedangkan yang keluar 5.477 mobil, 16.297 motor, 209 truk.

"Hingga tanggal 31 Juli, penurunan volume kendaraan yang masuk di Jalan Ahmad Yani sangat signifikan mencapai 2.159 mobil, 5.477 motor, 73 truk. Sedangkan yang keluar 6.435 mobil, 19.147 motor, 246 truk. Jadi penurunan volume kendaraan terjadi di hari kedua PPKM darurat. Turun secara signifikan, seperti di Bundaran Waru terpantau hingga saat ini (PPKM Level 4)," jelasnya.

Irvan mengatakan, adanya penyekatan jalan hingga saat ini sangat efektif untuk mengurangi mobilitas warga memutus mata rantai COVID-19 di Surabaya. Sebab, pembatasan mobilitas ini untuk men-screening kepentingan warga yang urgen saja, seperti medis dan sektor kritikal.

Meski demikian, pihaknya akan terus mengevaluasi mobilitas kendaraan selama PPKM level 4 ini berakhir. Karena 60 persen penurunan ini masih kurang. Sehingga pembatasan dan screening harus diperketat, meski kasus COVID-19 di Surabaya sedikit demi sedikit melandai.

"Ya masih ada beberapa perusahaan di sektor esensial yang masih belum mematuhi saat PPKM level 4 ini. Kami akan terus bersama Polrestabes Surabaya untuk mengetatkan screening dan penyekatan jalan," ujarnya.

Selain itu moda transportasi seperti bus AKDP dan AKAP pembatasan maksimal 50 persen. Sedangkan untuk angkutan dalam kota seperti bus kota, Suroboyo Bus, taksi hingga angkot juga 50 persen.

Selama PPKM level 4 berlangsung, bus AKDP dan AKAP mengalami penurunan penumpang mencapai 90 hingga 95 persen. Baik di terminal Purabaya dan terminal Tambak Osowilangon (TOW). Dengan sepinya penumpang banyak perusahaan otobus (PO) tidak beroperasi.

"Banyak PO yang tidak beroperasi takut rugi karena penumpang tidak ada," pungkasnya.

(fat/fat)