Jika Untuk Pilpres, Pengamat Sebut Baliho Bisa Bikin Kandidat Lain Tancap Gas

Hilda Meilisa - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 20:48 WIB
baliho
Baliho para tokoh nasional (Foto: Dok. detikcom)
Surabaya -

Sejumlah baliho tokoh partai bertebaran di Jatim. Baliho yang bertebaran ini mulai dari Puan Maharani (PDI Perjuangan), Muhaimin Iskandar (PKB), Airlangga Hartarto (Golkar) hingga Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (Demokrat).

Pengamat menyebut jika baliho dipasang untuk mengenalkan kandidat di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, baliho ini bisa membangunkan kandidat lain agar lekas tancap gas dan tak santai.

"Kehadiran baliho-baliho politik itu kan juga sama dengan membangunkan tidurnya para kandidat lain, sehingga para kandidat jadi tergugah untuk tidak santai dalam kerja-kerja politik untuk mengenalkan diri kepada publik," kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo Madura Surokim Abdus Salam kepada detikcom di Surabaya, Rabu (4/8/2021).

Pria yang menjadi peneliti senior di Surabaya Survey Center (SSC) ini menambahkan, meskipun Pilpres masih tiga tahun lagi, namun pemasangan baliho juga memiliki sisi positif.

"Itu sekali lagi positif agar bisa melibatkan publik sebagai penilai dan penimbang akhir kualitas kandidat. Kendati kontestasi pilpres masih lama yakni 3 tahun lagi, tetapi di era pemilihan langsung di mana keputusan hasil pemilu ditentukan oleh voters secara langsung, maka tidak ada pilihan lagi bagi kandidat untuk mengenalkan diri sejak dini," paparnya.

Surokim menyebut baliho ini bisa juga sebagai media edukasi politik pada masyarakat. Jadi, masyarakat bisa mengenal track record hingga prestasi tokoh-tokoh yang hendak maju Pilpres sejak awal.

"Hal ini positif menurut saya sebagai edukasi politik agar kita sebagai voters bisa melihat sejak awal, bisa menimbang-nimbang track record, pengalaman, rekam jejak, dan lain-lain sehingga bisa mengeleminasi kandidat yang ujug-ujug datang saat pemilu. Apa lagi sosialisasi untuk menjangkau voters nasional yang besar, jelas butuh waktu panjang dan persiapan yang juga panjang," jelas Surokim.

"Jadi jika ada fenomena para kandidat ramai-ramai ada di baliho, menurut saya adalah edukasi dan sosialisasi politik yang positif agar publik tidak disodori kandidat di last minute," tambahnya.

Selain itu, Surokim juga tak ingin masyarakat nanti kaget dengan hadirnya kandidat ujug-ujug datang. Sehingga, publik tidak sempat men-tracking catatan dan pengalaman masa lalunya.

"Kita semua tahu bahwa kerja kerja politik modern di era pemilu langsung itu butuh waktu persiapan yang panjang dan tidak bisa sim salabim ada kadabra mendadak hadir di last minute. Jadi hadirnya baliho-baliho politik itu menurut saya positif untuk edukasi dan sosialisasi kepada publik," beber Surokim.

Di kesempatan yang sama, Surokim menilai penggunaan media baliho cukup efektif dalam mengenalkan calon.

"Menurut saya karena waktu pemilunya masih lama dan itu juga ditujukan sebagai media sosialisasi, saya pikir baliho masih tetap relevan dan efektif sebagai media komunikasi politik yang sejauh ini masih selalu berada di lima besar media komunikasi politik di Indonesia yang bisa menjangkau pemilih secara langsung," pungkasnya

(hil/iwd)