Kronologi Pasien Kritis Meninggal Setelah Pontang-panting Ditolak 9 RS Mojokerto

Kronologi Pasien Kritis Meninggal Setelah Pontang-panting Ditolak 9 RS Mojokerto

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 27 Jul 2021 11:37 WIB
Lagi, Pasien Kritis Meninggal Setelah Ditolak 9 RS di Mojokerto
Pasien pontang-panting ditolak RS di Mojokerto (Foto: Istimewa)
Mojokerto - Nur Ali (50) kritis karena sesak napas dengan saturasi oksigen 45 persen. Warga Desa/Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto ini akhirnya meninggal dunia setelah ditolak 9 rumah sakit dan kesulitan mendapat oksigen.

Ali mendadak sesak napas saat tidur di rumahnya pada Minggu (25/7) sekitar pukul 07.00 WIB. Duda anak satu ini tinggal bersama keluarga adik kandungnya di Dusun Pacet Utara, Desa Pacet. Ia sempat mendapat bantuan pernapasan melalui oksigen kemasan botol. Namun, dua botol oksigen portabel itu habis dalam hitungan menit. Sehingga Ali dilarikan ke Puskesmas Pacet.

"Di Puskesmas Pacet dikasih oksigen, saturasinya 45 sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Namun, saya dirusuh mencari ambulans sendiri karena ambulans puskesmas akan dipakai tracing ke Claket dan Sajen," kata Kakak Kandung Ali, Yeti Muliah (52) kepada detikcom, Selasa (27/7/2021).

Saat itu, lanjut Yeti, petugas Puskesmas Pacet juga tidak mencarikan rumah sakit rujukan untuk Ali. Beruntung ia mendapat pinjaman ambulans milik Desa Kesimantengah, Kecamatan Pacet. Dipandu Kades Kesimantengah, ia berkeliling mencari rumah sakit untuk adik kandungnya.

Baca juga: Pasien Meninggal Pontang-panting Ditolak 9 RS, Kakak: Adik Saya Sangat Menderita

Selama mencari rumah sakit, Ali hanya mengandalkan asupan oksigen dari tabung 1 meter kubik di dalam ambulans untuk bertahan hidup. Sayangnya, semua rumah sakit yang ia datangi menolak untuk merawatnya dengan berbagai alasan.

RS Sumberglagah-Pacet menolak dengan alasan tidak ada kamar dan oksigen menipis, RSUD Prof dr Soekandar-Mojosari oksigen menipis, RSI Arofah-Mojosari oksigen terbatas, RS Sido Waras-Bangsal kamar penuh dan oksigen menipis, RS Gatoel-Kota Mojokerto IGD penuh dan oksigen menipis.

"Sampai di RS Gatoel sekitar jam 10.00 WIB. Adik saya sempat dicek saturasinya naik menjadi 65 persen setelah dapat oksigen di ambulans. Namun, RS Gatoel menolak merawat karena IGD penuh," terang Yeti.

Enggan menyerah, Yeti membawa Ali ke RSI Hasanah dan RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo di Kota Mojokerto, serta ke RSUD RA Basoeni di Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Namun, tiga rumah sakit itu menolak merawat Ali dengan alasan ruangan penuh dan stok oksigen menipis.

"Satu-satunya rumah sakit yang sempat mengecek kondisi adik saya hanya RS Gatoel. Rumah sakit lainnya langsung menolak tanpa melihat kondisi adik saya," ungkapnya.