Penjelasan Pakar Unair Soal Hoaks Pasien COVID Meninggal Akibat Interaksi Obat

Hilda Meilisa - detikNews
Senin, 19 Jul 2021 13:59 WIB
Dr. dr. Meity Ardiana SpJP (K)., FIHA., FICA., FAsCC
Dr. dr. Meity Ardiana SpJP (K)., FIHA., FICA., FAsCC (Foto: Hilda Meilisa Rinanda)
Surabaya -

Masyarakat sempat dihebohkan pendapat seorang dokter yang menyebut pasien COVID-19 bisa meninggal akibat interaksi obat. Dokter itu menyebut interaksi obat menyebabkan asidosis laktat.

Pakar dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr. dr. Meity Ardiana SpJP (K)., FIHA., FICA., FAsCC., buka suara. Meity menyebut hingga saat ini belum ada bukti ilmiah kombinasi obat pada pasien COVID-19 menyebabkan asidosis laktat.

"Penyebab asidosis laktat itu sendiri bermacam-macam dan kita harus memahami patofisiologi terjadinya asidosis laktat sebelum serta-merta menyimpulkan penyebab asidosis laktat pada pasien COVID-19 adalah karena interaksi obat," kata Meity di Surabaya, Senin (19/7/2021).

Meity menuturkan ketika seseorang terinfeksi COVID-19, kekurangan oksigen yang terjadi pada derajat sedang hingga berat, dapat menyebabkan timbulnya asidosis laktat. Di sisi lain, asidosis laktat yang terjadi dapat menyebabkan peningkatan keasaman darah yang juga dapat memperberat kondisi pasien seperti sesak nafas atau penurunan kesadaran.

Sehingga, dapat disimpulkan jika kondisi COVID-19 dan asidosis laktat saling memperberat satu sama lain. Namun, terkait interaksi obat, Meity menjelaskan setiap dokter yang memberi peresepan obat pada pasien tentu sudah menimbang manfaat maupun risiko interaksi obat yang dapat terjadi. Dokter akan memilih golongan obat dengan risiko interaksi paling minimal bagi pasien.

Tak hanya itu, Meity juga mengatakan obat yang perlu dikonsumsi antara satu pasien COVID-19 dengan pasien lainnya tentu berbeda. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni terkait seseorang tergolong pasien dengan gejala ringan, sedang atau berat dan apakah pasien tersebut sedang menjalani opname atau isolasi mandiri.

"Disarankan untuk mengonsumsi vitamin dan suplemen yang memang sudah terbukti secara ilmiah dapat mencegah atau mempercepat kesembuhan COVID-19 sesuai rekomendasi yang ada," tambahnya.

Sementara itu, rekomendasi untuk pencegahan COVID-19 saat ini adalah dengan memberikan multivitamin yang mengandung vitamin C, B, E, Zinc, dan vitamin D. Selain itu, Fitofarmaka juga dapat diberikan karena telah teregistrasi oleh BPOM.

"Perlu diingat bahwa vitamin adalah suplemen, dimana fungsinya hanya untuk menambah nutrisi dari makanan sehari-hari," ujarnya.

Meity berpesan masyarakat tidak perlu melakukan panic buying obat-obatan dan vitamin yang dipercaya dapat menyembuhkan COVID-19. Dia menyebut apa bila pola makan sehat dapat dijaga, maka kebutuhan mikro dan makronutrien yang dapat mencegah infeksi COVID-19 maupun virus dan penyakit lain akan dapat terpenuhi.

Terakhir, Meity juga mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam memilah dan memilih informasi yang didapatkan. Masyarakat perlu kritis dalam menanggapi suatu berita dengan melakukan pengecekan ulang pada sumber informasi terpercaya seperti jurnal ilmiah yang terkemuka, mengakses informasi dari portal edukasi yang diakui dan dapat dipertanggungjawabkan atau bertanya pada ahlinya.

"Masyarakat harus bisa membedakan antara opini dan temuan ilmiah, suatu hal yang bukan merupakan fokus dalam pendidikan dan gaya hidup kita," pesannya.

Simak video 'Cegah Hoax COVID-19, IDI Minta Masyarakat Tanya ke Ahlinya':

[Gambas:Video 20detik]



(hil/iwd)