Melihat Tradisi Rokatan Bhumih, Ritual Jelang Panen Raya Kopi di Bondowoso

Chuk S Widarsha - detikNews
Senin, 19 Jul 2021 09:11 WIB
rokatan bhumih
Tradisi rokatan bhumih menjelang panen raya kopi di Bondowoso (Foto: Chuk S Widarsha)
Bondowoso -

Soal Bondowoso yang dikenal sebagai penghasil kopi Arabika, mungkin sudah banyak tahu dengan indikasi geografis kopi Java Ijen Raung. Tapi masih belum banyak tau, menjelang panen raya pasti digelar prosesi selamatan atau 'rokatan bhumih'. Seperti apa?

Rokatan bhumih berasal dari bahasa lokal, Madura. Dalam makna sempit artinya meruwat bumi. Arti lebih luasnya yakni membebaskan dan memulihkan kembali alam semesta dari segala hal buruk ke hal kebaikan.

Di Bondowoso, khususnya di wilayah Ijen dan sekitarnya tradisi rokatan bhumih merupakan salah satu tradisi turun temurun setiap tahun yang selalu digelar masyarakat. Biasanya saat menjelang musim panen kopi.

Adapun keunikan pada tradisi rokatan bhumih ini terletak pada keunikannya. Yakni menggunakan ritual tradisi, dan simbol-simbol khusus yang memang dipatenkan. Baik prosesi maupun hidangan yang disajikan sebagai ubo rampe.

Sebagai contoh, untuk ubo rampe atau sajian makanan yang disajikan dan harus ada, yakni ayam ingkung, ketopak leppet (ketupat), kucur, gelung teleng (jenis jajanan lokal), tajhin mira dan pote (bubur merah dan putih), kopi manis dan pahit, serta beberapa jenis lainnya.

rokatan bhumihTradisi rokatan bhumih menjelang panen raya kopi di Bondowoso (Foto: Chuk S Widarsha)

Menurut salah seorang tetua masyarakat setempat, Suto (72), tradisi itu sudah ada sejak turun temurun. Maknanya, sebagai bentuk penghormatan pada Maha Kuasa yang telah memberikan hasil bumi.

"Sejak saya kecil dulu, sudah ada prosesi ini. Bahkan, katanya sejak jaman mbah saya juga sudah digelar," ujar Suto, saat berbincang dengan detikcom di rumahnya, Senin (18/7/2021).

Suto juga mengimbuhkan prosesi maupun makanan yang disajikan tersebut juga paten. Tak boleh ada yang terlewatkan atau kurang. Karena bisa berdampak terjadi hal yang bisa menggagalkan jalannya ritual dan berdampak tidak baik.

Pun hidangan yang disajikan dalam ritual tersebut selalu dua macam. Misal manis dan pahit, atau putih dan merah atau simbol warna lainnya. Semuanya bermakna sebagai gambaran antara kebaikan dan keburukan.

Sementara salah seorang pemerhati budaya di Bondowoso, Tantri Raras Ayuningtyas, berpendapat ritual semacam itu tetap harus dilestarikan. Karena bagi masyarakat setempat, ritus itu diyakini sebagai bentuk syukur pada Allah.

"Masyarakat di sana (Ijen dan sekitarnya) mayoritas memang suku Madura. Sejarahnya, mereka dibawa Belanda dari Madura sebagai pekerja perkebunan kopi," kata Tantri yang juga Tim Ahli Budaya, Ijen Geopark wilayah Bondowoso ini.

Semua rangkaian prosesi ritual rokatan bhumih menjelang panen raya kopi tersebut biasanya digelar sejak siang hingga malam hari. Termasuk rangkaian di dalamnya berupa 'can-macanan gatot subroto' serta beberapa ritual lainnya.

Belakangan, ritual dan tradisi masyarakat di lereng Pegunungan Ijen tersebut mulai dilirik wisatawan yang berkunjung ke Kawah Ijen. Terbukti, mulai banyak orang yang mulai bertanya, kapan ritual itu digelar ?

(iwd/iwd)