Warga Tulungagung Gelar Upacara Adat Ulur-ulur di Tengah PPKM Darurat

Adhar Muttaqin - detikNews
Jumat, 09 Jul 2021 15:43 WIB
Perwakilan warga dari empat desa di Kecamatan Campurdarat, Tulungagung menggelar upacara adat Ulur-ulur di Telaga Buret. Upacara digelar di masa PPKM Darurat.
Upacara Adat Ulur-ulur/Foto: Adhar Muttaqin/detikcom
Tulungagung -

Perwakilan warga dari empat desa di Kecamatan Campurdarat, Tulungagung menggelar upacara adat Ulur-ulur di Telaga Buret. Upacara digelar di masa PPKM Darurat.

Tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan air dari telaga. Sehingga dapat dimanfaatkan oleh warga di Desa Sawo, Desa Gedangan, Desa Ngentrong dan Desa Gamping.

Ketua Kasepuhan Sendang Tirta Mulya, Sukarman mengatakan, upacara adat Ulur-ulur di Desa Sawo tersebut telah ada sejak generasi-generasi sebelumnya. Upacara diawali dengan kirab ubarampe dan aneka sesaji. Dari pintu gerbang telaga menuju ke altar, dengan iringan sejumlah dayang-dayang.

"Upacara adat ini rutin kami gelar setiap tahun pada Bulan Sela (penanggalan Jawa), harinya Jumat Legi," kata Sukarman, Jumat (9/7/2021).

Selanjutnya dua wanita sesepuh desa yang telah mendapatkan mandat dari kasepuhan, bertugas memandikan serta mendandani sepasang patung Joko Sedono dan Dewi Sri.

Dua patung tersebut sebagai perlambang dari Buga Wastra atau sandang pangan. Prosesi memandikan patung ini diiringi dengan lantunan tembang-tembang Jawa atau macapat.

Sukarman menambahkan, setelah prosesi memandikan patung Joko Sedono dan Dewi Sri selesai, para dayang-dayang dan sesepuh adat menuju ke pinggir telaga dan melakukan tabur bunga.

Meskipun telah ada sejak generasi-generasi sebelumnya, masyarakat sekitar Telaga Buret hingga kini masih menjaga dan melestarikan upacara adat Ulur-ulur. Ini sebagai salah satu bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan.

"Air Telaga Buret ini tetap ada meskipun pada saat musim kemarau. Sehingga air sumber itu bisa dimanfaatkan untuk pertanian warga empat desa," jelasnya.

Upacara adat ini sekaligus menjadi simbol komitmen bersama untuk menjaga kelestarian dan lingkungan hidup yang ada di sekitar Telaga Buret.

Sukarman melanjutkan, di masa pandemi COVID-19 prosesi upacara adat Ulur-ulur berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasa. Arak-arakan yang biasanya dilakukan mulai dari SMA Campurdarat kini dipangkas hanya dari pintu gerbang telaga.

"Kemudian jumlah peserta kirab dikurangi banyak sekali. Ada kalau 75 persen kurangnya. Selain itu kami menerapkan protokol kesehatan dan jaga jarak," imbuhnya.

Menurutnya, meskipun tidak berlangsung meriah akibat terdampak pandemi dan tengah berlangsung PPKM Darurat, namun seluruh rangkaian upacara adat dapat terlaksana dengan lancar dan hikmat.

"Karena upacara adat ini harus tetap digelar," pungkas Sukarman.

(sun/bdh)