Pelaku Tabrak Lari yang Tewaskan Pak Ogah di Mojokerto Tak Ditahan

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kamis, 17 Jun 2021 19:49 WIB
Seorang pak ogah tewas setelah menjadi korban tabrak lari di Jalan Raya Desa Cepokolimo, Pacet, Mojokerto. Korban tertabrak truk tangki yang sengaja dia kejar gara-gara hampir menyenggol dirinya saat mengatur lalu lintas.
Saat polisi melakukan olah TKP di lokasi tabrak lari/Foto: Istimewa
Mojokerto -

Polisi tidak menahan pelaku tabrak lari yang menewaskan seorang pak ogah di Jalan Raya Desa Cepokolimo, Pacet, Mojokerto. Sampai saat ini, pelaku juga belum ditetapkan sebagai tersangka.

Pelaku tabrak lari, Catur Budi Hartanto (20), warga Desa/Kecamatan Prambon, Sidoarjo menyerahkan diri ke polisi pada Selasa (15/6) sekitar pukul 20.00 WIB. Catur diizinkan pulang setelah menjalani pemeriksaan di kantor Unit Laka Satlantas Polres Mojokerto hingga Rabu (16/6).

"Untuk sementara karena pelaku kooperatif, pemilik mobil juga kooperatif, kami kenakan dia wajib lapor, tidak kami tahan. Karena sopir maupun pemilik mobil ada tanggung jawab kemanusiaan. Mereka silaturahmi dengan keluarga korban. Walaupun itu tidak menghapus proses hukum. Jadi, proses hukum tetap berjalan," kata Kasat Lantas Polres Mojokerto AKP Randy Asdar saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (17/6/2021).

Tidak hanya itu, polisi juga belum menetapkan Catur sebagai tersangka kasus tabrak lari yang menewaskan seorang pak ogah beberapa waktu lalu. Menurut Randy, penetapan tersangka baru dilakukan setelah pihaknya mengirim surat perintah dimulainya penyidikan (SPDP) ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto.

"Kami masih dalam tahap penyidikan. Untuk sementara kami masih melengkapi berkas-berkasnya, kami akan mengirim SPDP ke kejaksaan. Kalau SPDP sudah kami kirim, baru kami tetapkan sebagai tersangka. Saat ini dia masih wajib lapor di polres," terangnya.

Untuk sementara waktu, kata Randy, Catur bakal dijerat dengan Pasal 310 ayat (4) UU RI Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Catur dinilai melalukan kelalaian saat menabrak korban hingga tewas di lokasi. Sopir truk tangki air itu terancam hukuman penjara paling lama 6 tahun dan atau denda maksimal Rp 12 juta.

"Sementara kami terapkan Pasal 310 sambil kami melengkapi unsur-unsur kalaupun ada unsur kesengajaannya. Tadi hasil rekonstruksi akan kami gelarkan kembali. Nanti kami akan cek lagi kelengkapan unsur-unsur, apakah unsur kesengajaan atau dia lalai. Sambil kami juga berkoordinasi dengan kejaksaan," lanjutnya.

Jika Catur sengaja menabrak korban hingga tewas, polisi bakal menerapkan Pasal 311 ayat (5) UU RI Nomor 22 Tahun 2009. Ancaman hukuman pasal ini lebih berat. Yakni penjara paling lama 12 tahun atau denda maksimal Rp 24 juta.

Insiden tabrak lari ini berawal dari simpang 3 Sumberglagah, Kecamatan Pacet, Mojokerto pada Selasa (15/6) sore. Saat itu, Eko Purwanto (41), warga Desa Sampangagung, Kutorejo, Mojokerto sedang mengatur lalu lintas di lokasi. Sehari-hari ia menjadi pak ogah atau sukarelawan pengatur lalu lintas (supeltas) di persimpangan tersebut.