Benarkah Mutasi Varian Baru COVID-19 Bisa Reinfeksi dan Kebal Vaksin?

Hilda Meilisa - detikNews
Sabtu, 12 Jun 2021 10:02 WIB
Pakar Imunologi Unair Dr. dr Agung Dwi Wahyu Widodo
Foto: Dok. Dr. dr Agung Dwi Wahyu Widodo
Surabaya -

Beberapa waktu lalu, ada tiga tenaga kesehatan (nakes) di Bangkalan yang meninggal dunia akibat COVID-19. Padahal, tiga nakes ini disebut telah mendapatkan vaksin.

Sejumlah pakar menduga, ketiga nakes ini terpapar Varian COVID-19 dari Varian B117 atau Alpha dan B1351 atau Beta. Varian Alpha disebut penyebarannya sangat cepat, di Inggris bahkan penyebarannya meningkatkan 40 hingga 90%. Lalu, apakah benar varian baru mampu menginfeksi seseorang yang telah divaksin?

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) sekaligus Pakar Imunologi Universitas Airlangga (Unair) Dr. dr Agung Dwi Wahyu Widodo memaparkan, walaupun sudah divaksin, seseorang dapat mengalami proses re-infeksi. Hal ini bisa terjadi karena beberapa sebab.

Pertama, karena produk antibodi yang dihasilkan vaksinasi masih belum tinggi. Akibatnya, tubuh tidak mampu melakukan netralisasi virus yang masuk. Sehingga virus menyebar dan menghasilkan penyakit.

"Pada beberapa kasus, walaupun sedikit, bisa terjadi re-infeksi pada Varian Alpha. Begitu pula dengan Varian Beta yang dapat menimbulkan re-infeksi juga walaupun tidak tinggi," kata Agung, Sabtu (12/6/2021).

Lalu yang kedua, pada orang tertentu kemungkinan antibodi yang dihasilkan tidak terlalu tinggi. Sehingga, yang terjadi virus dapat bertahan dan menimbulkan infeksi.

Sementara itu, Agung menyebut Hongkong dan beberapa negara Eropa hingga Amerika menemukan ternyata virus yang menginfeksi setelah vaksinasi atau re-infeksi adalah virus yang berbeda varian. Menurutnya, hal itu memungkinkan terjadinya proses re-infeksi.

Tonton Video: Kasus Corona Kudus Melejit, Ada Sebaran Mutasi Baru?

[Gambas:Video 20detik]