Komnas PA Beri Info Tambahan ke Polisi Kasus Kekerasan Seksual Sekolah di Batu

Amir Baihaqi - detikNews
Kamis, 10 Jun 2021 15:22 WIB
Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait
Ketua Komnas PA datangi Polda Jatim lagi (Foto: Amir Baihaqi)
Surabaya -

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait kembali mendatangi Ditrreskrimum Polda Jatim hari ini. Kali ini, ia datang untuk menambahkan informasi terkait kasus dugaan kekerasan seksual sekolah SPI di Batu.

"Jadi kehadiran saya adalah untuk menambah informasi selain terduga JE yang sudah kita laporkan. Tetapi ada penambahan untuk melengkapi yang 14 yang sudah di-BAP dan divisum," ujar Arist kepada wartawan sebelum masuk memberikan keterangan ke polisi, Kamis (10/6/2021).

Menurut Arist, informasi yang akan disampaikan kepada polisi bahwa ada 4 saksi yang mengetahui secara langsung peristiwa dugaan kekerasan seksual dan eksploitasi kepada para korban.

Bahkan, menurut Arist, keempat saksi itu pernah melaporkan apa yang disaksikan. Namun laporan waktu itu tidak mendapatkan tanggapan.

"Ada 4 pengelola yang di sana yang itu disampaikan sebagai saksi, sebagai orang yang mengetahui tentu nama-nama kami sampaikan kepada krimum. Yang saksi mengetahui, jadi bukan sebagai saksi yang mendengar," jelasnya.

"Sesungguhnya sebelum peristiwa ini terungkap yang ini sudah diberitahu tetapi tak ada tanggapan. Jadi kalau dikatakan bahwa gak ada yang mengetahui. Itu bohong. Itulah kehadiran saya untuk mendukung data-data yang sudah dilaporkan oleh korban supaya dua alat bukti cukup," tandas Arist.

Sebelumnya, JE pemilik sekolah SPI di Kota Batu dilaporkan ke Polda Jatim. JE dilaporkan karena kasus pelecehan anak didiknya.

Komnas PA juga menyebut tersimpan kasus-kasus kejahatan seksual yang dilakukan pemilik SPI. Bahkan ada kekerasan fisik, kekerasan verbal lainnya, hingga eksploitasi ekonomi dengan mempekerjakan anak. Perlakuan tak terpuji itu dilakukan sejak 2009, 2011, dan terbaru pada akhir 2020.

"Dia itu melakukan kejahatan seksual berulang-ulang kepada puluhan anak-anak pada masa sekolah di sana. Antara kelas 1, 2, 3 dan sampai anak itu lulus dari sekolah masih mengalami kejahatan itu," kata Arist saat melapor di Polda Jatim.

(iwd/iwd)