Temuan Varian Inggris dari Pasien Bangkalan, Pakar Sebut Penularannya 40%-90%

Hilda Meilisa - detikNews
Kamis, 10 Jun 2021 14:59 WIB
Beda Kondisi Pintu Masuk Suramadu Sisi Madura dan Surabaya
Swab di Suramadu (Foto file: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Mutasi COVID-19 varian alpha ditemukan dari salah satu pasien asal Bangkalan, Madura. Pakar mengatakan mutasi Corona ini perlu diwaspadai karena penularannya sangat cepat.

"Jika suatu daerah teridentifikasi varian ini (alpha) menurut WHO maka kita harus bersiap-siap mendapatkan kasus yang cepat," kata Pakar Imunologi Universitas Airlangga (Unair) Dr dr Agung Dwi Wahyu Widodo, Kamis (10/6/2021).

Pria yang juga menjabat sebagai Dewan Pakar Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur ini mengatakan varian alpha terkenal cukup ganas. Karena di Inggris, jika ada salah satu orang yang terjangkit, penularannya bisa meningkat 40% hingga 90% dari virus COVID-19 biasa.

"Varian Alpha ini di Inggris saja dia mampu meningkatkan penularan 40% sampai 90% dalam waktu yang cepat," ungkapnya.

Bahkan, Agung menyebut varian ini mengalami doubling time di Amerika Serikat atau peningkatan kasus sebanyak dua kali dalam waktu 10 hari.

"Di Amerika doubling timenya dalam 10 hari. Misalnya kasus 100 menjadi 200 dalam waktu 10 hari," paparnya.

Untuk itu, dr Agung menyarankan agar dilakukan persiapan fasilitas isolasi hingga perawatan di rumah sakit. Karena, penyebaran virus ini cukup cepat.

"Kecepatan menyebarnya cukup cepat, dibutuhkan sarana merawat pasien ini lebih banyak. Saya juga dapat laporan, seringkali pasien yang terpapar virus ini, kurang dari dua hari sudah meninggal. Cepat sekali. Selanjutnya progresivitas penyakitnya lebih berat lagi," ungkapnya.

Di kesempatan yang sama, dr Agung mengingatkan masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan. Salah satunya dengan mematuhi protokol kesehatan.

Karena, dr Agung mengatakan varian alpha ini bisa menyebabkan reinfeksi pada pasien.

"Virus ini bukan virus yang kemarin, ini virus baru yang bahasa awam dibilang ganas dan menyebabkan kondisi berat dan tidak menutup diri menyebabkan reinfeksi pada pasien yang pernah terkena COVID-19," pesannya.

(hil/fat)