P2TPPA Kota Batu Terima 29 Aduan Korban Kekerasan Seksual SPI

Muhammad Aminudin - detikNews
Kamis, 10 Jun 2021 09:05 WIB
sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Batu
Sekolajh di Batu (Foto file: Muhammad Aminudin/detikcom)
Batu -

Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TPPA) Kota Batu membuka hotline pengaduan kekerasan seksual sekolah SPI. Sejak hotline dibuka, P2TPPA sudah banyak menerima pengaduan.

Koordinator hotline P2PPA Kota Batu, Daisy Pangalia mengatakan, sejak kasus dugaan kekerasan di SPI mencuat. Pihaknya membuka hotline pengaduan, untuk memfasilitasi adanya korban lain.

"Ada tiga hotline dibuka, salah satunya kami. Data yang masuk ada 29 pengaduan," ujar Daisy Pangalia kepada wartawan, Kamis (10/6/2021).

Daisy mengaku, hotline pengaduan dibuka sejak 3 Juni 2021 lalu. Sebanyak 29 pengadu menghubungi melalui hotline menyampaikan bahwa juga menjadi korban kekerasan seksual.

"Jadi 29 pengadu menyampaikan pengaduan serupa melalui hotline," akunya.

Para korban disebut merupakan warga berdomisili dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti diungkap korban sebelumnya, tindak kejahatan yang dialami berupa kekerasan seksual, eksploitasi ekonomi, dan kekerasan fisik.

P2PPA sendiri telah meneruskan pengaduan yang diterima kepada pihak kepolisian sebagai bahan penyelidikan, apakah merupakan korban baru atau tidak.

"Kami sudah menyerahkan data pengaduan, apakah data itu, sudah pernah masuk ke Polres Batu atau Polda biar ditelaah lebih lanjut," ujar Daisy.

Bersamaan, gabungan organisasi masyarakat sipil atau koalisi children protection Malang Raya menyampaikan beberapa sikap terkait kasus dugaan kekerasan atau pelecehan anak di SPI.

Ada 8 poin disampaikan, di antaranya meminta penghentian penerimaan peserta didik baru di SMA di Kota Batu dan mendorong Pemkot Batu serta Pemprov Jatim menghentikan operasional bisnis di lingkungan sekolah tersebut. Karena sudah mempekerjakan para pelajar.

Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait turut hadir dalam pernyataan sikap menyatakan, ada tiga hal disampaikan korban.

Yakni, adanya serangan persetubuhan, eksploitasi ekonomi dan kekerasan fisik maupun verbal. "Jadi ada 3 hal diceritakan korban, tentang adanya serangan persetubuhan, eksploitasi ekonomi, dan kekerasan fisik serta verbal yang dialami," pungkas Arist.

(fat/fat)