Penyebab Kedelai Impor Naik Dampak Stok Menipis dan COVID-19

Suparno - detikNews
Rabu, 02 Jun 2021 09:49 WIB
Sejumlah Perajin Tahu dan Tempe di Sidoarjo Keluhkan Naiknya Harga Kedelai
Penjual tempe di Pasar Porong (Foto: Suparno/detikcom)
Sidoarjo -

Penyebab mahalnya harga kedelai impor, karena pasokan dari Amerika Serikat (AS) menipis dampak pandemi COVID-19. Selain itu ada faktor rupiah melemah, faktor alam dan isu global.

Kedelai konsumsi yang dipakai untuk tahu dan tempe saat ini masih impor dari AS. Karena kedelai lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan permintaan perajin tahu tempe. Saat musim panen kedelai lokal mudah didapat, namun saat tidak musim panen kedelai lokal sangat sulit didapatkan.

Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe (Kopti) Jatim Sukari mengatakan sampai saat ini harga kedelai Rp 11 ribu/kg. Sebelum pandemi, harga kedelai hanya Rp 7.500/kg.

"Setelah pandemi sampai sekarang, harga kedelai sudah mencapai Rp 10.800 hingga Rp 11ribu/kg. Itu menyulitkan kita produksi. Selain karena pandemi, selain itu ada faktor lain melemahkan rupiah, dan isu global," kata Sukari di Koperasi Karya Mulya Jalan Raya Sepande, Selasa (1/6/2021).

Sukari menjelaskan, isu global itu contohnya bahwa negara China akan secara besar-besaran impor kedelai dari AS. Contoh lain di Brazil dan Argentina gagal panen kedelai, dari faktor itulah harga kedelai terus naik.

"Perajin tempe dan tahu di Jatim, bahkan di seluruh Indonesia mengandalkan kedelai impor. Karena kedelai lokal tidak mencukupi permintaan para perajin tahu dan tempe," jelasnya.

Semua perajin tahu dan tempe di Jatim memakai kedelai impor, bukan berarti anti kedelai lokal. Karena keberadaan kedelai lokal tidak bisa kontinyu panen, sehingga kebutuhan bahan baku yang dibutuhkan perajin tidak bisa dipenuhi. Kedelai lokal banyak saat musim panen, namun selesai musim panen kedelai lokal sudah didapatkan.

"Kenapa pengrajin lebih senang memakai kedelai impor karena keberadaannya itu kontinyu dan mendapatkannya juga mudah. Selain itu biji kedelai impor besar-besar, bila dibuat tempe bisa lebih banyak dibanding kedelai lokal yang bijinya lebih kecil," terangnya.

"Sehingga para perajin tahu dan tempe memilih kedelai impor. Selain itu karena ada faktor alam, diduga pengiriman kedelai impor terganggu," tandasnya.

(fat/fat)