Upacara Hari Lahir Pancasila di Blitar Berbalut Balutan Budaya Jawa Nan Indah

Erliana Riady - detikNews
Selasa, 01 Jun 2021 11:16 WIB
upacara hari lahir pancasila
Upacara hari lahir Pancasila di Istana Gebang (Foto: Erliana Riady)
Blitar -

Upacara Hari Lahir Pancasila yang digelar di Istana Gebang Blitar layaknya art performance. Upacara resmi negara ini berbalut budaya Jawa nan indah sehingga menjadi pemandangan menyegarkan.

Upacara yang dipimpin Wali Kota Blitar Santoso ini dimulai sekitar pukul 07.45 WIB. Karena masih masa pandemi, maka jumlah peserta dibatasi hanya 20 orang. Mereka terdiri para camat dan kepala OPD. Jika pada tahun sebelumnya, peserta upacara memakai baju adat tradisional Jawa. Tahun ini peserta upacara hanya seragam memakai baju krem terang.

Yang menarik, penjor sebagai simbol hajatan besar dipasang di bagian depan kanan kiri panggung pemimpin upacara. Bunyi gamelan terus mengalun selama persiapan upacara dilaksanakan. Kemudian di sisi timur halaman Istana Gebang, berdiri beberapa lelaki berpakaian beskap dengan membawa foto Presiden Soekarno, patung Garuda Pancasila, dua kotak kayu hitam pekat yang berisi teks pidato BK di BPUPKI, bendera merah putih dan teks Pancasila.

upacara hari lahir pancasilaFoto: Erliana Riady

Begitu saat pembacaan teks Pancasila, seorang penari pria cucuk lampah mengambil teks Pancasila dan menyerahkannya ke penari perempuan untuk dibawa kepada Wali Kota Blitar selaku pemimpin upacara. Gamelanpun mengalun mengiringi langkah tarian penari cucuk lampah yang gemulai namun penuh wibawa.

Dalam sambutannya, Wali Kota Santoso mengatakan, tema peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini adalah Pancasila dalam Tindakan Menuju Indonesia Tangguh.

"Ini maknanya, bahwa Pancasila tangguh menuntun bangsa Indonesia dalam situasi sulit pandemi Corona. Butir-butir sila dalam Pancasila mampu menguatkan kegotong royongan semua elemen bangsa melalui masa sulit ini," kata Santoso, Selasa (1/6/2021).

Prosesi upacara selesai, diteruskan dengan Kenduri Pancasila di aula kesenian Istana Gebang. Beberapa tumpeng mini disajikan di kediaman rumah masa kecil mantan Presiden Soekarno di Kota Blitar ini dengan lesehan, masih diiringi gamelan Jawa yang sakral penuh makna. Wejangan dan doa disampaikan berupa macapat oleh seorang seniman.

(iwd/iwd)