Mutasi Virus COVID-19 Bisa Terjadi Akibat Vaksinasi, Benarkah?

Esti Widiyana - detikNews
Jumat, 07 Mei 2021 14:22 WIB
Ilustrasi Vaksin COVID-19
Ilustrasi (Foto: dok Kaspersky)
Surabaya -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim menemukan varian virus COVID-19 baru dari Kango, Afrika Selatan di Mojokerto. Meski si pasien sembuh dan tak ada yang tertular, namun penemuan virus Corona Kongo ini tentu mengkhawatirkan masyarakat luas.

Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Prof Nidom Foundation (PNF), Prof dr Chairul Anwar Nidom menjelaskan setiap daerah atau negara banyak menimbulkan varian-varian Corona baru. Karena virus di suatu lingkungan akan mengalami mutasi Corona sesuai kondisi manusia dan lingkungan. Selain itu, hal ini juga bisa diakibatkan dari pelaksanaan vaksinasi.

Untuk itu, Nidom menyebut perlunya pengujian antibodi hasil vaksinasi dengan varian-varian baru. Jika memang vaksinasi tidak protektif terhadap varian baru, disarankan sebaiknya program vaksinasi dihentikan (moratorium).

"Agar virus COVID-19 tidak menjadi liar, maka perlu ditemukan cara yang baru untuk melawan. Varian virus baru bisa dikatakan ganas atau tidak, ketika sudah masuk dalam tubuh manusia. Jadi pencegahan terbaik untuk menghadapi varian-varian baru dan mencegah virus masuk tubuh, dengan memakai masker dan menjaga jarak, serta jangan lupa selalu minum empon-empon," kata Nidom saat dihubungi detikcom di Surabaya, Jumat (7/5/2021).

"Kita belajar pada virus flu, karena vaksinasi, mutasi selalu terjadi," ujarnya.

Di Indonesia sudah ada beberapa mutasi yang masuk. Seperti varian D641G, B117, E484K, mutasi Jepang, Amerika, Brazil, hingga Kango. Nidom menyarankan untuk menghentikan pelaksanaan vaksinasi terlebih dulu, kemudian mengkaji untuk bisa digunakan terhadap varian-varian Corona baru.

"Kalau saran saya, meski sulit diterima, moratorium program vaksinasi, hentikan dulu. Kemudian kaji varian-varian terhadap aspek-aspek klinik. Kemudian hasilnya bisa ditentukan vaksin yang menimbulkan sedikit mutasi dan efek samping," pungkasnya.

Sebelumnya Kadinkes Jawa Timur dr Herlin Ferliana menyampaikan temuan varian mutasi Corona. Varian mutasi Corona dari Kongo, Afrika tersebut ditemukan di Kabupaten Mojokerto.

Herlin menyebut, mutasi Corona dari Kongo ini dibawa oleh sekelompok Warga Negara Indonesia (WNI) yang melakukan perjalanan dinas ke daerah tersebut, pada Februari 2021. Namun, WNI tersebut telah sembuh. Varian mutasi Corona dari Kongo yang dibawa seseorang itu, tidak sampai menularkan kepada warga lainnya di Mojokerto.

Dinkes telah melakukan penelusuran untuk mencari kontak erat orang tersebut. Hasilnya hanya yang bersangkutan saja yang terinfeksi. Sementara warga yang mengidap mutasi varian Corona Kongo, tidak mengalami gejala alias Orang Tanpa Gerjala (OTG).

(fat/fat)