Jejak KH Hasyim Asy'ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan RI

Hilda Meilisa - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 17:11 WIB
Katib Syuriah PWNU Jatim Drs KH Syafrudin Syarif
Foto: Istimewa (Dok Pribadi Kiai Syafrudin)
Surabaya -

Nama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari tidak dimuat dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I buatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Padahal, dalam sebuah buku karya wartawan luar, Mbah Hasyim disebut sebagai peletak batu pertama kemerdekaan RI.

Buku tersebut merupakan tulisan Sayyid Muhammad Hasan Syihab, seorang wartawan Arab yang pernah meliput revolusi di Indonesia. Buku cetakan Kuwait ini berjudul al-'allamah Muhammad Hasyim Asyari wa bi'ulafati istiqlali Indonesia. Artinya, maha KH Hasyim Asyari peletak batu pertama kemerdekaan RI.

"Kita semua tahu bagaimana perjuangan Kiai Hasyim Asy'ari. Sampai ada sebuah buku dari wartawan luar negeri yang pada saat itu beliau berada di Indonesia, yaitu membuat buku yang menyatakan bahwa KH Hasyim Asy'ari itu adalah peletak batu pertama kemerdekaan Indonesia," kisah Khatib Syuriah PWNU Jatim KH Safruddin Syarif kepada detikcom di Surabaya, Selasa (20/4/2021).

Kiai Safruddin mengisahkan, peran Mbah Hasyim sangat besar bagi kemerdekaan bangsa ini. Mbah Hasyim mengajak para santri melalui kiai untuk bersama mengusir penjajah.

"Artinya beliau sebagai kunci, karena beliau mampu menggerakkan masyarakat Indonesia khususnya kaum santri melalui kiai membentuk sebuah barisan Hizbullah dan kemudian bersama-sama dengan pejuang Indonesia yang nasionalis, kemudian bergerak memerdekakan bangsa ini," terang Kiai Safruddin.

Tak hanya itu, Kiai Safruddin juga menceritakan saat Indonesia telah merdeka, ada sekutu yang kembali ingin merebut kemerdekaan ini. Lalu, KH Hasyim Asy'ari memberi masukan pada Bung Karno agar tidak lengah.

"Kita tahu ketika pertama kita merdeka pada Agustus, lalu pada Oktober sudah mulai masuk kembali pasukan sekutu untuk menguasai Indonesia dengan alasan untuk menangkap bangsa Jepang yang ada di Indonesia, padahal di belakangnya ada pasukan Belanda yang ingin menguasai Indonesia," papar Kiai Safruddin.

"Saat itulah Kiai Hasyim Asy'ari yang memberikan masukan kepada Soekarno sebagai presiden, yang sudah datang utusannya kepada beliau jika kita wajib mempertahankan kemerdekaan RI dan kemudian dia mengatakan musyawarah bersama kiai se-Jawa dan Madura akan mengeluarkan sebuah maklumat yang dikenal dengan resolusi jihad," imbuhnya.

Lalu, resolusi jihad ini membakar semangat bangsa Indonesia pada tanggal 21 Oktober disebarkan pada 22 Oktober melalui sel-sel jaringan para ulama dan pondok pesantren di seluruh Indonesia.