Makam Mbah Jaelani Sidoarjo Jadi Tempat Peziarah yang Ingin Khusyuk Ibadah

Suparno - detikNews
Sabtu, 17 Apr 2021 03:30 WIB
Makam Mbah Jaelani di Desa Kajeksan, Kecamatan Tulangan tak pernah sepi peziarah. Terlebih saat Bulan Ramadhan, banyak yang datang dari berbagai kota.
Makam Mbah Jaelani di Sidoarjo/Foto: Suparno
Sidoarjo -

Makam Mbah Jaelani di Desa Kajeksan, Kecamatan Tulangan tak pernah sepi peziarah. Terlebih saat Bulan Ramadhan, banyak yang datang dari berbagai kota.

Pada waktu-waktu tertentu seperti Hari Kamis malam Jumat, banyak peziarah dari luar kota yang mendatangi Makam Mbah Karbi, nama asli Mbah Jaelani. Konon Mbah Jaelani merupakan kiai tersohor di masanya.

Mereka yang datang ke Makam Mbah Jaelani di Bulan Ramadhan ada yang bermalam. Bahkan ada juga yang selama Ramadhan berniat menjalankan ibadah dengan khusyuk di Makam Mbah Jaelani.

"Selama Bulan Ramadhan peziarah yang datang ke Makam Mbah Jaelani ini lebih banyak di bandingkan hari-hari biasa," kata Zainul Arifin, juru kunci makam, Sabtu (17/4/2021).

Makam Mbah Jaelani di Desa Kajeksan, Kecamatan Tulangan tak pernah sepi peziarah. Terlebih saat Bulan Ramadhan, banyak yang datang dari berbagai kota.Makam Mbah Jaelani di Sidoarjo/ Foto: Suparno

Menurutnya, peziarah datang dari berbagai kota. Seperti dari Surabaya, Lamongan, Gresik, Pasuruan, Bojonegoro dan Sidoarjo. Peziarah tersebut datang tidak dalam waktu bersamaan.

"Kalau pagi sampai sore sekitar 200 peziarah. Sementara itu pada malam hari setelah salat tarawih hingga salat subuh sekitar 500 peziarah," tambah Arifin.

Salah seorang peziarah dari Gresik, Jamil (68) mengaku setiap Bulan Ramadhan selalu datang ke Makam Mbah Jaelani.

"Rencana untuk Bulan Ramadhan tahun ini melakukan ibadah di Makam Mbah Jaelani. Sebulan penuh. Karena lokasi di Makam Mbah Jaelani ini masih alami. Jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Jadi menjalankan ibadah bisa lebih khusyuk," kata Jamil.

Hal yang sama disampaikan oleh Hamid (53) warga Sidoarjo. Ia mengaku tahu Makam Mbah Jaelani sejak kecil. Kemudian menginjak remaja, dirinya bersama santri yang lain setiap malam Jumat selalu ke Makam Mbah Jaelani.

"Sejak remaja saya bersama teman santri yang lain sering kunjungi Makam Mbah Jaelani. Saya mendapatkan cerita dari kiai saya, bahwa beliau ini semasa hidupnya memiliki karomah yang luar biasa," kata Hamid.

Hamid juga menjelaskan, berdasarkan cerita yang ia dengar, kekaromahan Mbah Jaelani di antaranya bisa menjemur pakaian di pohon bambu yang paling atas. Yakni dengan cara memanggil ujung pohon bambu menggunakan tangan.

"Sebenarnya masih banyak lagi karomahnya beliau semasa hidupnya. Namun saya gak mau menjelaskan, karena ini hanya sebuah cerita. Yang jelas beliau merupakan seorang kiai, yang karomahnya hampir sama dengan para Wali Songo," pungkas Hamid.

(sun/bdh)