Tradisi Nyekar Jelang Ramadhan di Surabaya Mulai Ramai Didatangi Warga

Esti Widiyana - detikNews
Minggu, 11 Apr 2021 17:55 WIB
nyekar jelang ramadhan di makam rangkah
Warga Surabaya nyekar jelang Puasa 2021 (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Tradisi nyekar atau ziarah menjelang bulan Ramadhan dilakukan warga Surabaya. Mereka nyekar mendiang orang tua atau sanak saudara. Seperti yang terlihat di Makam Rangkah Surabaya, tampak lebih ramai dibanding jelang Ramadhan tahun lalu.

Dari pantauan detikcom, Makam Rangkah Jalan Kenjeran terlihat ramai peziarah, penjual bunga atau pengemis di areal pemakaman. Banyak pula kendaraan mobil dan motor terparkir di pingir jalan.

Seperti Pita Sari, seorang peziarah warga Karang Asem Surabaya. Dia sengaja datang H-2 Ramadhan untuk nyekar ke makam orangtuanya. Dia mengaku tidak menyangka Makam Rangkah lebih ramai dibanding jelang puasa tahun lalu.

"Mau ziarah ke makam almarhum ayah saya, karena lusa kan puasa. Tak kira ya sepi kayak tahun lalu, ternyata lumayan ramai," kata Pita heran kepada detikcom, Minggu (11/4/2021).

Dia mengaku tahun lalu bertepatan dengan pandemi COVID-19, sehingga warga belum berani keluar rumah. Namun saat ini kebanyakan lebih berani keluar rumah setelah sebagian warga sudah menjalani vaksin. Meski begitu, warga yang berziarah tampak mematuhi protokol kesehatan yakni memakai masker.

nyekar jelang ramadhan di makam rangkahNyekar jelang Ramadhan di Makam Rangkah/ Foto: Esti Widiyana

Sementara selain peziarah, penjual bunga musiman tampak berjejer di pinggir jalan depan Makam Rangkah. Pedagang bunga membeberkan bunga di atas meja. Mereka mengemasnya dalam tas plastik berukuran kecil. Mereka menjualnya Rp 5 ribu/plastik.

Salah satu pedagang bunga musiman, Siti Komariah (50) mengatakan, sudah dua hari ini Makam Rangkah mulai banyak didatangi peziarah. Hal ini pun berdampak baik pada dagangannya.

"Ramai, sudah dua hari ramai. Ya jadi laku banyak jualannya. Sudah bati (Untung) lumayan, alhamdulillah," kata Siti.

Menurutnya, peziarah jelang puasa 2021 tahun ini lebih ramai dibanding tahun lalu. Dia bisa menjual 60 kantong bunga setaman per hari untuk ziarah.

"Lebih ramai tahun ini, tahun kemarin sepi. Sekarang bisa jual 60 bunga, sekitar Rp 300 ribu," pungkasnya.

(fat/fat)