Surat Wasiat Dua Pelaku Teror Mirip, Ini Analisis Pakar Unair

Hilda Meilisa - detikNews
Sabtu, 10 Apr 2021 12:44 WIB
Prof. Dr. Bagong Suyanto
Prof. Dr. Bagong Suyanto (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Beberapa waktu lalu, peristiwa bom bunuh diri di Gerbang Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/3/2021) dan penyerangan Mabes Polri pada Rabu (31/3/2021) menghebohkan masyarakat. Ditemukan pula surat wasiat dari kedua pelaku yang memiliki kemiripan.

Pakar sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si mengatakan penemuan surat wasiat yang mirip, tidak mengindikasikan mereka ada dalam jaringan yang sama. Tetapi, Bagong menyebut hal ini cenderung diindikasi sebagai korban propaganda radikalisasi internet.

Tak hanya itu, Bagong juga menyebut pelaku ZA yang beraksi lonewolf atau seorang diri, kebanyakan terjadi karena paparan radikalisme di internet.

"Bukan berarti mereka saling berhubungan atau kontak secara langsung, tapi sama-sama korban ekspansi radikalisme jaringan yang menebar radikalisme melalui internet," jelas Bagong kepada detikcom di Surabaya, Sabtu (10/4/2021).

Terlebih, Bagong menilai serangan dari dunia maya tidak mudah untuk dihindari. Sedangkan kebiasaan sosial anak juga turut mempengaruhi. Menurut Bagong, anak yang terlihat diam itu tidak dapat dikategorikan aman, karena serangan dimulai dari dunia maya dan tidak bisa diduga.

Model lonewolf ini, tambah Bagong, merupakan pergeseran cara terorisme dalam melakukan serangan. Menurut Bagong, pelaku serangan bertindak secara amatir dan tidak ada target yang jelas, hanya didorong oleh emosional saja.

"Penyerangan lebih pada simbolik, seperti tokoh atau lembaga yang dianggap musuh. Kan polisi dianggap musuh oleh mereka (teroris)," imbuhnya.

Bagong juga menyebut anak muda yang memiliki psikologis rentan hingga korban broken home mudah terdoktrin.

Selanjutnya
Halaman
1 2