BMKG Sebut Ada Potensi Tsunami 3 Meter di Pelabuhan Kalianget Sumenep

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Rabu, 07 Apr 2021 16:41 WIB
Ilustrasi BMKG (Eva Safitri/detikcom)
Foto: Ilustrasi BMKG (Eva Safitri/detikcom)
Surabaya - Beberapa waktu lalu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati berkunjung ke Sumenep, Madura. Kunjungannya ini untuk melihat kesiapsiagaan Pemda terkait adanya potensi tsunami di wilayah tersebut.

Dalam kunjungannya pada Jumat (2/4), Dwikorita bersama tim gabungan BMKG Jawa Timur, BPBD, Syahbandar, dan Pelindo Kalianget. Saat itu pihaknya melakukan survei lapangan untuk mengecek jalur evakuasi tsunami di Pelabuhan Kalianget.

Pengecekan ini dilakukan untuk memastikan jalur evakuasi, apakah sudah dilengkapi rambu-rambu dan sudah tepat sesuai perhitungan peta rawan bahaya tsunami. Selain itu, mereka menilik jalur evakuasi menuju lokasi aman yang harus bisa dicapai masyarakat setempat dalam waktu cepat.

Saat itu, Dwikorita mengungkapkan jika Pelabuhan Kalianget Sumenep dipilih menjadi Lokasi survei jalur evakuasi karena termasuk dalam wilayah yang berpotensi terdampak tsunami. Tsunami ini diakibatkan oleh aktivitas Sesar Kambing dengan mekanisme pergerakan jenis sesar naik (thrust fault).

Sedangkan hasil simulasi pemodelan tsunami yang dilakukan tim mitigasi gempa bumi dan tsunami BMKG, dengan kekuatan gempa M = 7.8 (worst case) di sistem patahan tersebut menunjukkan, wilayah sekitar Pelabuhan Kalianget berpotensi terdampak tsunami dengan ketinggian mencapai 3 meter dan prakiraan waktu tiba tsunami kurang dari 4 menit.

Saat dikonfirmasi, Prakirawan BMKG Klas II Maritim Tanjung Perak Surabaya Arrizal R Fatoni membenarkan adanya potensi tsunami di Sumenep. "Di Sumenep berdasarkan kajian yang sudah ada, memang berpotensi, tapi tidak bisa ditentukan kapan. Karena belum ada alat yang bisa memprediksi gempa, sebagai pembangkit tsunami tersebut," kata Arrizal kepada detikcom di Surabaya, Rabu (7/4/2021).

"Potensi tidak sama dengan prakiraan. Mirip, tapi penggunaannya berbeda. Kalau prakiraan itu seolah-olah berapa hari lagi atau berapa bulan lagi ada tsunami, jadwalnya jelas tempo waktunya jelas. Adapun potensi, dia belum jelas kapan waktunya," tambahnya.

Kendati demikian, Arrizal mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Dia mengatakan tsunami tak akan terjadi jika tidak ada kejadian gempa, longsor atau gunung meletus di bawah laut.

"Imbauannya tetap tenang, karena tsunami hanya disebabkan oleh gempa, longsor bawah laut, gunung meletus di bawah laut, atau aktivitas militer ledakan senjata. Jadi masyarakat tetap tenang, jangan panik, dan terus update informasi dari BMKG," imbuh Arrizal.

Di kesempatan yang sama, Arrizal juga menggarisbawahi jika kejadian puting beliung atau waterspout beberapa waktu lalu di Sumenep, tidak menimbulkan tsunami. Dia mengungkapkan banyak hoaks yang menyebut akan terjadi tsunami akibat waterspout.

"Lalu mohon untuk tidak panik terhadap adanya waterspout, karena waterspout tidak menimbulkan tsunami, hanya angin kencang saja tapi dalam skala kecil tidak luas. Karena kabarnya kemarin setelah ada waterspout, masyarakat pada panik mendapat hoaks bisa timbul tsunami," pungkasnya. (sun/bdh)