Soal Menag Minta Doa Semua Agama, Kiai Sepuh Ini Sarankan Seperlunya Saja

Faiq Azmi - detikNews
Selasa, 06 Apr 2021 22:03 WIB
Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar
Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar (Foto: Faiq Azmi)
Surabaya - Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas meminta agar doa semua agama dibacakan di acara-acara Kementerian Agama (Kemenag). KH Marzuki Mustamar menilai, doa cukup dibacakan sesuai pemeluk agama yang hadir di suatu acara.

"Kalau menurut saya, taruhlah ada acara (Kemenag) di Departemen agama di Bali. Hadirnya Hindu semua, pejabatnya Hindu semua, doanya cukup satu Hindu saja. Kalau di situ hadir ada yang Kristen, maka yang diberi kesempatan doa ya Kristen dan Hindu. Seperlunya saja, tidak semuanya," ujar Marzuki saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (6/4/2021).

"Misalnya di Papua ada acara Kemenag, Islam hadir beberapa orang, Kristen, Katolik beberapa orang. Maka silakan masing-masing perwakilan diberi kesempatan mimpin doa. Tentu doanya diamini sesuai pemeluk agama masing-masing. Jadi, sesuai yang hadir saja, gak perlu semuanya," lanjutnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Sabiilul Rosyad Malang ini menilai, doa semua agama tidak perlu dibacakan bila yang hadir hanya dari beberapa agama saja.

"Cukup yang diberi kesempatan yang hadir saja. Jadi gini, tidak memberi kesempatan, itu nanti membuat sakit, merasa dianak tirikan satu kelompok agama itu yang tidak diberi kesempatan," ujarnya.

"Lalu dalam setiap acara, semua agama diberi kesempatan semua, kalau tidak ada jemaahnya/jemaatnya gimana? menghalangi gak baik, mengada-ada juga gak baik," sambungnya.

Pria yang juga Ketua PWNU Jatim ini menyampaikan, meski seseorang yang hadir di suatu acara beragama minoritas, namun harus tetap diberi kesempatan untuk berdoa sesuai keyakinannya.

"Kalau Kristen gak diberi kesempatan, menurut keyakinannya, masak kita paksa berdoa secara Islam. Terus nanti kalau di Papua, nanti yang Islam gak diberi kesempatan doa ala Islam, masak berdoa ala Kristen. Itu namanya memaksakan. Kalau di Islam memaksakan kan gak boleh," bebernya.

Marzuki menepis anggapan, bahwa pembacaan doa dari beberapa agama merupakan pencampur adukan. Menurutnya, pembacaan doa sesuai agama seseorang yang hadir di suatu acara, tetap harus diberi kesempatan.

"Itu bukan mencampur adukkan agama. Jadi monggo karena yang hadir, tarulah 30 orang. Muslimnya 20, Katolik 5, Kristen 5, meski minoritas tetep diberi kesempatan," katanya.

"Nanti kalau di Papua Muslimnya hanya 5, Kristennya 10, Katolik 15. Karena di sini kita memberi kesempatan meski lain minoritas, nanti ada kesempatan Muslim meski minoritas di Papua diberi kesempatan. Jadi podo enake (sama enaknya)," pungkasnya.

Simak juga video ''Doa Semua Agama' Dikritik, Menag Yaqut: Itu untuk Internal Kemenag':

[Gambas:Video 20detik]



(iwd/iwd)