BMKG Tanjung Perak Sebut Waspada Potensi Awan Cumolonimbus Saat Pancaroba

Hilda Meilisa - detikNews
Selasa, 30 Mar 2021 10:30 WIB
BMKG Maritim
BMKG Maritim (Foto file: Faiq Azmi/detikcom)
Surabaya -

BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya mengingatkan masyarakat pesisir hingga nelayan untuk senantiasa waspada. Sebab, masa pancaroba berpotensi muncul awan cumulonimbus atau CB.

"Untuk potensi awan cumulonimbus masih berpotensi, justru pada saat-saat pancaroba ini harus lebih waspada karena biasanya diawali pemanasan radiasi matahari yang cukup intens," kata Prakirawan BMKG Tanjung Perak Surabaya, Arif Wiyono kepada detikcom di Surabaya, Selasa (30/3/2021).

Arif menambahkan pemanasan radiasi matahari yang intens bisa memicu pertumbuhan awan cumulonimbus. Arif menyebut pertumbuhan awan cumulonimbus bisa berpotensi cuaca buruk seperti hujan deras, petir, dan angin kencang hingga puting beliung

"Hal ini bisa memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus yang dapat menyebabkan hujan yang disertai secara seporadis, berpotensi juga terjadinya puting beliung khususnya di daerah-daerah pesisir, karena adanya beda tekanan udara antara darat dan laut, yang biasanya terjadi pada sore hari menjelang malam," paparnya.

Di kesempatan yang sama, Arif mengingatkan para nelayan hingga warga yang bermukim di pesisir agar meningkatkan kewaspadaan, terutama pada sore hari.

"Masyarakat di pesisir dan nelayan agar waspada di masa pancaroba ini, karena cuaca tidak bisa diprediksi dan sewaktu awan cumulonimbus hadir bisa terjadi hujan disertai petir serta angin yang cukup kencang dapat menyebabkan peningkatan tinggi gelombang, terutama pada sore hari," pungkas Arif.

Sementara kondisi cuaca di sebagian besar wilayah perairan Jatim umumnya hujan ringan hingga sedang, saat siang dan sore hari. Untuk kondisi arah angin didominasi dari Timur ke Tenggara dengan kecepatan angin maksimum di Laut Jawa bagian timur sebesar 16 knots atau 30 km/jam dan Samudra Hindia selatan Jatim sebesar 19 knots atau 35 km/jam.

Untuk ketinggian gelombang laut di Selat Madura antara 0.1 hingga 0.3 m. Sedangkan di Laut Jawa bagian timur antara 0.2 sampai 1.5 m, sedangkan di Samudra Hindia selatan Jatim antara 0.8 hingga 2.8 m.

(hil/fat)