Petani Banyuwangi Risau Harga Gabah yang Terus Merosot Jelang Panen Raya

Ardian Fanani - detikNews
Rabu, 24 Mar 2021 14:09 WIB
sawah di banyuwangi
Sawah di Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi -

Imbas wacana impor beras 1 juta ton membuat petani Banyuwangi Merana. Sebab, jelang masa panen raya, petani di Banyuwangi risau atas harga gabah yang kian merosot. Padahal biaya yang dikeluarkan petani pada musim ini jauh lebih mahal karena kelangkaan pupuk bersubsidi.

Seperti yang diungkapkan Muhammad Sholeh (62) petani asal Desa/Kecamatan Licin. Diakui Sholeh, harga gabah memang mengalami fluktuatif. Hanya saja baru musim ini harganya berada di posisi terendah. Harga gabah sekarang Rp 4.200 per kilogram.

"Kalau harga segitu, petani masih kalah. Biasanya bisa sampai Rp 5.200 per kilogram. Paling rendah Rp 4.600," katanya saat ditemui wartawan, Rabu (24/3/2021).

Sholeh menduga penurunan harga gabah ini imbas wacana pemerintah untuk mengimpor beras. Ia pun khawatir, saat panen raya yang tinggal beberapa minggu ini harga gabah kian merosot seperti yang telah terjadi di berbagai daerah.

"Semoga saja tidak turun lagi. Kalau kita lihat di daerah lain, ada yang sampai turun Rp 3.400 per kilonya. Kalau seperti ini habis sudah. Nggak tahu gimana nasib petani," imbuhnya.

Kondisi ini dikhawatirkannya dapat memperburuk perekonomian petani. Sebab, pada musim kali ini ongkos yang dikeluarkan bertambah hampir dua kali lipat, lantaran saat musim tanam petani kesulitan memperoleh pupuk bersubsudi.

"Panenan kali ini kan hasil tanaman bulan Desember tahun lalu. Karena pupuk subsidi sulit, akhirnya harus beli yang non subsidi. Harganya hampir dua kali lipat," ungkap Sholeh.

"Misal pupuk urea. Kalau yang subsidi di kios harganya Rp 125 ribu per karung (50 kg). Kalau yang non subsidi bisa sampai Rp 300 ribu per karung," sebutnya.

Sementara Pimpinan Cabang Bulog Banyuwangi Jusri Pakke mengatakan, saat ini harga pokok penjualan (HPP) gabah kering di tingkat petani sebesar Rp 4.250 per kilogram. Sementara HPP untuk Gabah kering giling di kisaran angka Rp 5.300 per kilogram.

"Itu adalah kebijakan pusat. Kita yang di daerah hanya menjalankan saja. Tentu untuk menghitung HPP sudah melalui metode perhitungan," katanya.

Diakui Jusri, minggu lalu harga gabah kering di petani masih di angka Rp 4.500 hingga Rp 4.700 per kilogram. Penurunan harga ini lebih banyak dipengaruhi faktor cuaca yang mengakibatkan kualitas gabah menurun.

"Biasanya ada istilah harga jatuh. Setelah kita ke lapangan, ternyata bukan harganya yang jatuh. Tapi kualitasnya yang berkurang, karena sudah kena air, banjir. Pasti harganya murah. Sebab, beras ini kan untuk disimpan lama," ujarnya.

"Kalau sekarang di tingkat petani Banyuwangi harganya Rp 4.200, masih sesuai dengan HPP yang ditetapkan oleh Bulog," tutupnya.

Simak juga video 'Ombudsman Cermati Potensi Maladministrasi Keputusan Impor Beras':

[Gambas:Video 20detik]



(iwd/iwd)