Pakar Epidemiologi Unair Berbagi Kunci Tangani Corona B117

Esti Widiyana - detikNews
Sabtu, 20 Mar 2021 11:31 WIB
Epidemiolog Dr dr M Atoillah Isfandi MKes
Epidemiolog Dr dr M Atoillah Isfandi MKes (Foto: Esti Widiyana)
Surabaya -

Pada awal Maret 2021, telah ditemukan virus mutasi Corona B117. Karena disebut penularannya lebih cepat dari COVID-19 sebelumnya, hal ini membuat masyarakat khawatir.

Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr dr M Atoillah Isfandiari MKes mengatakan, dari kasus yang ada di luar negeri, Strain B117 tidak meningkatkan severitas atau keparahan yang ditimbulkan. Namun, berdasarkan penelitian secara in-vitro didapati potensi peningkatan penularan sebesar 40 hingga 80 persen.

Maka, upaya mengantisipasi harus lebih terfokus pada pencegahan potensi peningkatan penularan di hulu, bukan pada antisipasi peningkatan keparahan gejala di hilir atau di rumah sakit. Pasalnya, gejala yang dilaporkan beberapa pasien dominan demam dan batuk selama ini gejalanya kurang lebih sama dengan virus COVID-19 pada umumnya.

"Untuk Indonesia sendiri penemuan kasus Strain B117 lebih banyak dikarenakan adanya penelitian laboratorium, di mana pada sampel darah pasien dilakukan sequencing atau pengurutan utas RNA-nya, dan hal tersebut bukan merupakan pemeriksaan rutin," kata Atoillah di Surabaya, Numat (19/3/2021).

"Dalam sequencing, RNA virus di baca semua (whole genome), tidak hanya sekedar mendeteksi positif atau negatif saja," tambahnya.

Bagi Atoillah, sequencing menjadi salah satu cara tepat untuk mendeteksi adanya penularan Strain B117 di Indonesia. Hanya saja, dalam upaya testing yang lebih masif tidak semua sampel pasien di Indonesia bisa dilakukan sequencing karena membutuhkan biaya yang besar.

"Infeksi dari suatu mutasi virus bisa dicegah oleh vaksin yang ada atau tidak tergantung letak dan bentuk mutasinya," ujarnya.

Hal tersebut karena pada prinsipnya, mutasi virus berpengaruh terhadap penyusunan RNA dalam. antinya diharapkan akan bisa dikenali oleh antibodi dalam tubuh yang dihasilkan dari vaksinasi tersebut.

"Karena tubuh kita diajari vaksin untuk mengenali utas RNA tertentu dan bila ternyata virus ini (SARS-CoV-2, Red) mutasi, selama mutasi itu tidak mengubah utas RNA yang akan dikenali oleh antibodi kita, mutasi apa pun dan di mana pun, tubuh kita akan tetap bisa mengenali dan mencegahnya untuk bereplikasi dalam tubuh kita," jelasnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, para pakar virologi mengasumsikan bahwa vaksin yang ada saat ini masih efektif mencegah infeksi yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 Strain B117.

Simak video 'Varian Corona B117 Masuk Bogor, Danrem 061/Sk Rapatkan Barisan':

[Gambas:Video 20detik]



(iwd/iwd)