Nafisa, Bocah yang Ingin Operasi Luka Bakar Agar Tak Terus Diejek Teman

M Rofiq - detikNews
Rabu, 03 Mar 2021 15:34 WIB
Nafisa (7) mengungkapkan kegelisahannya. Warga Dusun Blobo, Desa Banjar Sari, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo ini mengaku tengah membutuhkan uluran tangan.
Nafisa (7)/Foto: M Rofiq/detikcom
Probolinggo -

Nafisa (7) mengungkapkan kegelisahannya. Warga Dusun Blobo, Desa Banjar Sari, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo ini mengaku tengah membutuhkan uluran tangan.

Ia ingin melakukan operasi agar tidak lagi memiliki bekas luka bakar di wajah, leher dan dadanya. Ia mengaku sedih kerap diejek teman-temannya.

"Saya ingin kembali cantik seperti wajah teman-temanku. Karena saya malu sering diejek jelek karena wajah saya ada bekas luka bakar. Semoga ada bantuan dari pemerintah dan dermawan untuk membantu operasi bedah dan operasi plastik. Selain malu, luka bakar sering gatal," kata Nafisa di rumahnya, Rabu (3/3/2021).

Luka bakar ia alami setahun lalu. Saat bermain masak-masakan bersama teman-temannya ketika libur sekolah, ia menyiramkan spirtus lalu api menyambar wajahnya. Karena lukanya parah, Nafisa dilarikan ke RSUD dr Mochamad Saleh Kota Probolinggo. Namun sang ibu tidak memiliki uang untuk melanjutkan perawatan. Akhirnya Nafisa dibawa pulang paksa dari rumah sakit oleh ibunya.

Nafisa tidak kembali melanjutkan perawatan atas luka bakar tersebut. Akhirnya Nafisa mengalami kontraktur desmogen atau penarikan otot kulit. Ia sulit bergerak dan susah mengucapkan huruf R.

Nafisa hidup kekurangan bersama ibu kandungnya Suana (53), di rumah milik kerabat yang ditinggal merantau ke luar Jawa. Ia sudah ditinggal ayah kandungnya Hasim (50) sejak masih berusia 2 tahun. Karena himpitan ekonomi, ayahnya mengalami depresi.

"Belum ada bantuan baik dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo, maupun pengusaha, karena di sekitar rumah banyak pabrik besar. Salah satunya perusahaan air minum mineral terkenal di Probolinggo. Saya kepingin anak saya kembali cantik dan tidak malu bergaul, berharap uluran tangan baik dari pemerintah daerah maupun Pemrov Jatim, atau para dermawan. Biar anak tidak malu lagi bergaul sama temannya di desa," ujar Suana.

Suana bekerja sebagai buruh serabutan. Ia sering mengajak Nafisa ke tempat kerja, kadang dititipkan ke tetangga sebelah. Jika tidak ada kerjaan, mereka sering berharap bantuan dari para tetangga. Nafisa tidak masuk Sekolah Dasar karena tidak memiliki biaya dan peralatan sekolah.

Hofiyah (35), tetangga Nafisa, mengaku kasihan melihat kondisi tersebut. Kalau ditinggal ibunya kerja, Nafisa kerap kumpul dengan keluarganya.

"Sudah saya anggap anak saya sendiri Nafisa. Bahkan kalau sakit tengah malam ketok-ketok pintu, untuk tidur bersamanya. Dan bahkan suami sudah menganggap anak sendiri. Kasian sejak kecil sekitar 5 tahun ditinggal ayahnya hingga sekarang tidak kunjung pulang. Bahkan saudara ayahnya juga belum pernah ada yang datang melihat kondisinya," tambah Hofiyah.

Menurut ahli bedah RSUD dr Mochamad Saleh Kota Probolinggo, dr M Ali Yusni, Nafisa perlu perawatan medis karena mengalami kontraktur desmogen. "Perlu operasi rilis untuk membebaskan agar bisa kembali gerak sempurna di bagian kulit leher yang menarik bagian mulut," terangnya.

"Agar hasil sempurna perlu berkali-kali operasi besar. Harus dirujuk ke rumah sakit di Malang atau Surabaya," pungkasnya.

(sun/bdh)