Nasib Tim Pemakaman COVID-19 Kota Mojokerto Belum Dibayar Saat Setahun Corona

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 02 Mar 2021 16:50 WIB
tim pemakaman korban COVID-19 di Kota Mojokerto
Tim pemakaman COVID-19 di Kota Mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)

"Kalau saya tidak takut. Kalau memang Yang Maha Kuasa menggariskan saya meninggal di jalan itu (terinfeksi COVID-19), ya sudah," ujarnya.

Sentot berharap Dinkes Kota Mojokerto segera mencairkan honor tim pemakaman jenazah pasien COVID-19. Terlebih lagi penghasilannya dari menjual pentol dan sosis keliling tidak lagi cukup untuk menafkahi keluarganya. Karena pendapatannya selama pandemi Corona hanya Rp 30-35 ribu saja per hari.

"Mudah-mudahan honor segera cair. Selain untuk kebutuhan hidup keluarga, juga mau saya gunakan membuka warung nasi goreng di depan rumah," jelasnya.

Kondisi yang sama dirasakan Achmad Zaenuri, anggota tim pemakaman korban COVID-19 Kota Mojokerto. Duda berusia 63 tahun ini mengaku belum menerima honor sejak 5 Januari sampai 1 Maret 2021. Dia mengaku 81 kali memakamkan jenazah pasien COVID-19 dalam kurun waktu tersebut. Honor yang seharusnya dia terima sekitar Rp 16,2 juta.

"Karena honor belum cair saya pakai uang tabungan untuk operasional menjadi tim pemakaman. Karena saya sudah tidak punya pekerjaan," terang pria asal Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini.

Pria yang juga menjadi Ketua RBC ini mengaku heran dengan tak kunjung cairnya honor tim pemakaman dari Dinkes Kota Mojokerto. Pasalnya, pembayaran honor setahun Corona Jatim di kota Mojokerto tahun lalu lancar-lancar saja.

"Sering saya tanyakan sampai saya capek sehingga tidak saya tanyakan lagi. Namun, saya tetap menjalankan tugas. Sesuai seragam saya RBC, misinya kemanusiaan," tegas Zaenuri.

Pria bertubuh mungil ini menjadi relawan sejak 2011 silam. Sehingga kepeduliannya terhadap sesama manusia sudah tidak diragukan lagi. Oleh sebab itu, honor sebagai tim pemakaman COVID-19 akan dia gunakan untuk misi kemanusiaan.

Yaitu memodifikasi mobil sedan Toyota Corona yang dia beli sendiri Rp 11 juta. Sedan keluaran 1984 itu akan dia gunakan layaknya mobil ambulans yang dilengkapi tandu.

"Rencananya selain untuk kebutuhan hidup, honor saya kembalikan untuk kemanusiaan. Yaitu untuk memperbaiki mobil sedan milik saya yang akan saya buat seperti ambulans. Untuk mengevakuasi mayat, korban kecelakaan atau orang sakit yang butuh pertolongan," jelasnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kota Mojokerto drg Maria Poeriani Soekowardani membenarkan honor tim pemakaman korban COVID-19 tahun ini tetap Rp 200.000 per orang untuk sekali pemakaman. Menurut dia, honor tim pemakaman yang tidak kunjung cair akibat proses pengelolaan keuangan di Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (BPPKA) Kota Mojokerto.

"Mohon maaf kami masih proses pengelolaan keuangan di BPPKA. (Mengapa lama?) Mohon maaf kurang tahu karena kami juga masih menunggu," tandasnya.

Halaman

(fat/fat)