Polisi Gerebek Pabrik Kerupuk Gunakan Boraks di Sidoarjo

Suparno - detikNews
Senin, 01 Mar 2021 12:57 WIB
kerupuk boraks
Polisi menggerebek pabrik kerupuk yang menggunakan boraks (Foto: Suparno)
Sidoarjo -

Polisi menggerebek sebuah pabrik kerupuk di Krembung, Sidoarjo. Penggerebekan dilakukan karena pabrik tersebut memproduksi kerupuk menggunakan boraks.

"Kami dari Satreskrim Polresta Sidoarjo menggerebek salah satu pabrik yang memproduksi kerupuk yang menggunakan bahan kimia jenis boraks yang membahayakan kesehatan," ujar Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo Kompol Wahyudin Latif, Senin (1/3/2021).

Dari pabrik tersebut, polisi kemudian menggerebek home industry yang sama di Tulangan, Wonoayu. Ternyata selain diproduksi di pabrik, kerupuk berbahan boraks dengan merek Gajah Tunggal ini juga diproduksi di home industry. Usaha ilegal ini sudah berproduksi selama lima tahun.

kerupuk boraksPasutri pemilik pabrik kerupuk diamankan (Foto: Suparno)

Wahyudin mengatakan dari dua tempat tersebut, polisi mengamankan 3,9 ton kerupuk siap edar dan boraks 1,4 ton. Kerupuk tersebut diedarkan oleh pelaku ke daerah DKI Jakarta, Bali, dan beberapa daerah di Jawa Timur.

"Tersangka adalah SN dan ST yang merupakan suami istri warga Sidoarjo. Tersangka akan di kenakan pasal 136 atau pasal 142 UU RI Nomor 18 tahun 20112 tentang pangan. Atau pasal 162 ayat (1) UU RI nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Dengan ancaman lima tahun penjara," jelas Wahyudin.

Rahmi, analis obat dan makanan Dinas Kesehatan Jatim mengatakan boraks lazimnya digunakan untuk campuran bahan bangunan dan bahan las. Saat boraks digunakan untuk bahan pangan, maka akibatnya akan fatal terhadap tubuh manusia.

Makanan yang mengandung boraks jika dapat menyebabkan ganguan kesehatan. Di antaranya gangguan ginjal, otak, dan hati. Bahkan, jika dikonsumsi dalam jumlah banyak bisa menyebabkan turunnya darah, menimbulkan depresi, pingsan, hingga kematian

"Yang jelas bahan makanan yang dicampur dengan boraks sangat membahayakan organ tubuh kita. Maka kami berharap masyarakat pelaku usaha makanan jangan mencampuri makanan dengan bahan berbahaya tersebut," kata Rahmi.

(iwd/iwd)