Indonesia Disarankan Adaptasi Fiscal Terms untuk Menarik Investasi Migas

Esti Widiyana - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 13:38 WIB
Swamp Rig Pertamina Hulu Mahakam
Swamp Rig Pertamina Hulu Mahakam (Foto: dok. Pertamina)
Surabaya -

Indonesia saat ini dalam situasi kritis seiring peningkatan kebutuhan energi dan produksi namun penemuan cadangan migas terus menurun. Solusi untuk memperbaikinya yakni regulasi dan fiscal terms yang saat ini perlu diperbaiki untuk investasi kegiatan eksplorasi migas di Indonesia.

Anggota Dewan Pengawas BLU Lemogas Kementrian ESDM (Staf Ahli Menteri ESDM) Nanang Abdul Manaf mengatakan Indonesia harus mengadaptasi fiscal terms yang ada di global. Hal tersebut untuk menarik investasi dalam aktivitas eksplorasi migas.

Pasalnya, negara di dunia sedang berkompetisi dalam mengundang investasi hulu migas. Di mana lapangan produksi banyak negara sudah tua dan melakukan berbagai upaya membuat iklim investasinya menarik bagi investor

"Hasil analisis kami menunjukkan bahwa perbaikan fiscal terms berdampak pada peningkatan keuntungan bagi kedua belah pihak, baik kontraktor maupun pemerintah, dari sisi investasi maupun pendapatan," kata Nanang dalam webinar media gathering, Selasa (23/2/2021).

Saat ini, terdapat pergeseran aktivitas hulu migas di Indonesia dari lapangan on shore yang sudah tua ke daerah lepas pantai dan laut dalam. Sedangkan tantangan eksplorasi laut dalam yaitu biaya investasi yang mahal, membutuhkan 80-100 juta dolar AS untuk pengeboran satu sumur, tingkat pengembalian investasi (IRR) yang rendah, dan periode eksplorasi 10 tahun.

Lead time dari discovery ke produksi pertama di Indonesia membutuhkan waktu antara 8 - 26 tahun, tergantung jenis lapangannya. Rata-rata Lead Time Indonesia sekitar 10,5 Tahun.

"Tentunya kondisi tersebut yang mempengaruhi investor untuk melakukan eksplorasi di Indonesia. Perlu ada perbedaan strategi pengelolaan lapangan baru dan lama (mature). Kita harus low cost, harus efisien. Supaya kita masih bisa memproduksi yang sifatnya marginal dan lapangan-lapangan yang mungkin keekonomiannya sudah pas-pasan," jelasnya.

Bila sudah menyelesaikan tantangan mengelola lapangan 'mature', maka Pertamina yang dia percaya bisa bertahan. Sementara, pihaknya memiliki modal dari kegiatan untuk mengelola lapangan yang tua.

"Dengan modal itu kita bisa investasi juga untuk kegiatan eksplorasi baru. Portofolionya harus berimbang, yang fokus ke produksi tapi juga ada yang fokus mencari tambahan cadangan baru dengan kegiatan eksplorasi," katanya.

"Saya percaya Pertamina bisa bertahan. Di Pertamina EP ini ada lapangan yang umurnya 40 tahun. Ada yang 50 tahun. Bahkan ada yang lapangan itu ditemukan sebelum saya lahir. Lapangan Talang Akar ditemukan pada 1920. Lapangan Rantau ditemukan pada 1940. Tapi masih bisa survive, masih bisa kita produksikan dan tentunya punya nilai ekonomis, artinya menghasilkan profit," pungkasnya.

(iwd/iwd)