Alat Tes COVID-19 Lewat Keringat Ketiak Diuji Profile di RS Islam Surabaya

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 22 Feb 2021 17:23 WIB
Alat tes COVID-19 lewat keringat ketiak diuji profile di RS Islam Surabaya. Alat i-nose c-19 itu buatan guru besar Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD.
Penyerahan 4 alat i-nose ke RS Islam Surabaya/Foto: Esti Widiyana/detikcom
Surabaya -

Alat tes COVID-19 lewat keringat ketiak diuji profile di RS Islam Surabaya. Alat i-nose c-19 itu buatan guru besar Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD.

Uji profile ini untuk mengejar satu akurasi yang benar antara i-nose dengan PCR. "Yang dikejar adalah satu akurasi dengan prinsip yang benar dibagi total sampel. Kalau sampel 100 yang bener siapa. Maksudnya benar dibandingkan hasil PCR. Misalnya PCR positif, i-nose positif. PCR negatif, i-nose negatif. Kalau PCR negatif, i-nose positif maka i-nose yang salah. Kalah, dia (i-nose) yang salah," kata Riyanarto setelah menyerahkan 4 alat i-nose ke RS Islam, Senin (22/2/2021).

Adanya alat i-nose di RS memang untuk dilakukan uji profile, di mana pihaknya membutuhkan 600 data untuk menguji. Setelah uji profile, maka dilanjutkan uji diagnosis 2.000-2.500 data. Kemudian, jika uji diagnosis lolos maka bisa izin edar dan diproduksi.

"Untuk bisa diproduksi massal, ini sedang uji profile, setelah selesai lalu uji diagnosis. Setelah uji diagnosis mencapai akurasi sekitar 93 persen, maka bisa mengajukan izin edar di Kemenkes. Insyaallah dengan bantuan banyak RS bisa, mudah-mudahan September bisa digunakan," jelasnya.

Riyanarto menjelaskan, penelitiannya ini bukan hanya meneliti dan mengeluarkan konsep. Tujuan utamanya dihilirkan sampai menjadi produk yang memberikan manfaat untuk masyarakat.

"Alhamdulillah melalui kerja sama ini i-nose ini dibutuhkan untuk situasi pandemi. Ini alat screening murah, cepat dan tidak berbahaya," ujarnya.

Kecanggihan dari i-nose c-19 bisa dilihat dari cara kerjanya dengan memanfaatkan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk memproses sampel dari bau keringat ketiak. Bau keringat akan diubah menjadi sinyal listrik, kemudian diklasifikasikan menggunakan AI.

Selain itu, terdapat fitur near-field communication (NFC) untuk memudahkan pengisian data yang cukup dengan menempelkan e-KTP pada alat deteksi cepat COVID-19. Penggunaan cloud computing sebagai penyimpan data juga mendukung i-nose c-19 agar dapat terintegrasi dengan publik, pasien, dokter, rumah sakit maupun laboratorium.

"Untuk akurasinya sendiri saat ini akurasinya 91%-1%," katanya.

Saat ini, alat i-nose c-19 digunakan di empat RS di Surabaya. Yakni RSU dr Soetomo, RSI Jemursari, RSI AYani dan RS National Hospital.

"RSI ada dua alat untuk dirawat inap dan nanti ada di depan untuk screening," pungkasnya.

(sun/bdh)