COVID-19 Hanya Pengaruhi Kualitas Sperma Pasien Bergejala Berat

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 08 Feb 2021 11:25 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Surabaya - Penelitian dunia menemukan bahwa COVID-19 bisa merusak kualitas sperma dan menurunkan kesuburan pria. Lalu, bagaimana penjelasan dokter?

"Jadi gini sebenarnya, studi tentang COVID masih banyak yang baru. Jadi banyak hasilnya masih penelitian awal. Beberapa hari terakhir bisa menyebabkan sperma menjadi rusak. Namun hal tersebut kan masih terbatas penelitiannya. Sampai saat ini karena kebetulan saya bekerja di klinik bayi tabung, kita sih tidak melihat efek COVID menular melalui sperma," kata dr Benediktus Arifin MPH SpOG(K) dokter RS National Hospital Surabaya saat dihubungi detikcom, Senin (8/2/2021).

Menurutnya, penelitian yang menyatakan COVID-19 bisa merusak kualitas sperma, terjadi pada kasus Corona yang sangat berat. Artinya, bukan penyintas tanpa gejala atau OTG.

Benediktus juga mengatakan, pada kasus COVID-19 berat dan sangat berat terdapat penelitian yang menunjukkan bisa mengurangi fertilitas. Tetapi, karena ia dokter kandungan, Benediktus lebih fokus kepada fertilitas.

"So far tidak ada bukti yang menunjukkan ada virus COVID di sperma dan sperma tidak menularkan COVID, setelah setahun kita punya COVID. Pada kasus yang kecil kalau gak salah kasusnya gak sampai 100 ya, cuma 80 orang yang didiagnosa beberapa menyebabkan kualitas sperma tidak bagus, tapi itu pada kasus-kasus yang berat," ujarnya.

Ia menjelaskan, jika sperma dan sel telur cukup spesifik, tidak berhubungan langsung dengan pernapasan. Sedangkan COVID-19 secara spesifik banyak menyerang sistem pernapasan. Jika terkena dalam keadaan berat, otomatis akan terpengaruh semua, termasuk organ dalam ginjal, liver, dan lainnya.

"Berbicara tentang kesuburan para penyintas ini gak perlu takut, yang paling penting itu melihat pola hidupnya setelah dia sembuh. Setelah dia sembuh menjaga pola hidup baik, setelah COVID kalau dia mau cek spermanya, ya cek sperma analitik dan itu umumnya tidak terpengaruh kalau dia sembuh sendiri isolasi mandiri. Lain halnya kalau dia dirawat di RS sakit berat, organ-organnya sudah rusak, sempat sembuh kita akan lihat lagi seberapa virus ini merusak organ-organ yang lain. Pada intinya gitu, secara fertiliti dia akan terpengaruh kalau kasusnya berat. Kalau untuk kesuburan bukan COVID-nya ini yang penting usia itu akan menurunkan kesuburan," jelasnya.

"Sperma sendiri butuh 70 sampai 90 hari, apa yang dicek sudah tiga bulan lalu diproduksi. Sel telur diproduksi saat siklusi menstruasi. Penelitian tentang sperma juga smal grup. Itu kan masih terbatas tetap penyakit baru tetap waspada. Ya kita tau bahwa obesitas, merokok, kencing manis, hipertensi, asap rokok, narkoba penelitian akan berpengaruh pada sperma," tambahnya.

Menurutnya, pada penelitian terakhir yang di luar negeri menyatakan, bahwa penting untuk waspada secara evident. Tidak ada virus COVID-19 di sperma dan penyintas tidak langsung merusak testis.

"Cuman memang fertilitas menurun, sperma menurun di temukan pada kasus COVID yang berat, karena aseptornya sama di paru-paru, ada juga aseptorya di testis, inikan baru penelitian awal. Pertama belum ada penelitian yang menunjukkan di sel sperma dan telur itu terdeteksi virus COVID. Kalau di berat akan berpengaruh pada seluruh sistem termasuk sistem fertilitas atau reproduksi. Lalu untuk para penyintas yang OTG yang gak perlu takut, karena saat ini penelitian yang menunjukkan sperma tiba-tiba jelek bukan OTG tadi. Tapi kalau dia berat akan berpengaruh pada seluruh sistem dan penelitian yang baru beberapa ini juga masih terbatas," pungkasnya. (sun/bdh)