Warga Bondowoso Bikin Tenda Atap Mobil hingga Banjir Pesanan Saat Pandemi

Chuk Shatu Widarsha - detikNews
Sabtu, 23 Jan 2021 10:55 WIB
Pandemi COVID-19 tak menyurutkan banyak orang untuk terus berimprovisasi. Seorang warga Bondowoso membuat roof top tent. Apakah itu?
Roof top tent/Foto: Chuk Shatu Widarsha
Bondowoso -

Pandemi COVID-19 tak menyurutkan banyak orang untuk terus berimprovisasi. Seorang warga Bondowoso membuat roof top tent. Tenda apakah itu?

Lazimnya, sebuah tenda digunakan untuk berkemah di alam terbuka. Tapi dengan teknis tertentu, jadilah sebuah tenda tampak hinggap di atas mobil atau 'tenda terbang'. Alat ini bernama roof top tent, yang dalam bahasa Indonesia artinya tenda di atas atap.

Roof top tent ini dapat berfungsi sebagai tempat tidur maupun berteduh saat berada di alam terbuka. Caranya, dengan dipasang di atas mobil, semua jenis. Tinggal menambah roof real atau cross bar, yang berfungsi sebagai penyanggah. Agar tenda tak menyentuh langsung atap mobil.

Pandemi COVID-19 tak menyurutkan banyak orang untuk terus berimprovisasi. Seorang warga Bondowoso membuat roof top tent. Apakah itu?Pembuat roof top tent di Bondowoso/ Foto: Chuk Shatu Widarsha

Kerangka 'tenda terbang' ini berbahan aluminium ekstrusi. Perpaduan baja bercampur serat carbon. Sehingga ringan tapi kuat, serta tak mudah korosi. Sedangkan cover tendanya berbahan kain kordura yang tak mudah sobek, tahan abrasi, tetesan air, maupun benturan.

Alat ini memiliki dimensi panjang 140 cm, lebar 100 cm, dan tinggi 18 cm, saat terlipat. Namun ketika dibuka dalam bentuk tenda, lebarnya jadi 200 cm, panjang tetap 140 cm, dan tingginya 90 cm. Tenda ini cukup menampung 3-4 orang.

Menurut Yanuar Harry Pratama (36), warga Desa Kapuran, Wonosari, Bondowoso, roof top tent itu awalnya dia buat secara pribadi, sekitar 2 tahun lalu. Alat itu lantas digunakannya saat rekreasi bersama keluarganya.

"Awalnya foto-foto saat camping menggunakan tenda itu saya upload di medsos. Lantas banyak yang japri, tanya-tanya. Kemudian minta dibuatkan juga," tutur Yanu, panggilan karibnya, saat ditemui di bengkelnya, Sabtu (23/1/2021).

Dari situ, pesanan mulai mengalir. Pemesannya pun kebanyakan dari luar daerah. Misalnya Surabaya, Jakarta, Bandung, bahkan dari Medan dan beberapa kota di luar Jawa.

"Saat itu saya belum mematok harga. Yang penting cukup untuk produksi saja," tutur bapak dua anak ini.

Namun makin lama pesanan tambah banyak. Apalagi saat situasi pandemi. Akhirnya Yanu pun melibatkan warga sekitar sebagai tenaga kerja pendukung. Dengan bermacam bidang pekerjaan, sesuai kemampuan dan kebutuhan.

Selanjutnya
Halaman
1 2