Menristek Dukung Pendeteksi Corona Lewat Bau Keringat Ketiak Buatan ITS

Esti Widiyana - detikNews
Kamis, 21 Jan 2021 08:50 WIB
Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD mengembangkan inovasi alat pendeteksi COVID-19, melalui bau keringat ketiak. Alat ini dinamakan i-nose c-19.
Menristek BRIN Dukung Pendeteksi Corona Lewat Bau Keringat Buatan ITS/Foto: Istimewa
Surabaya -

Guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD telah mengembangkan inovasi alat pendeteksi Corona melalui bau keringat ketiak. Alat ini dinamakan i-nose c-19.

i-nose c-19 pun mendapat dukungan untuk pengembangan, hingga lolos uji edar ketika dipresentasikan di hadapan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Prof Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Selasa (19/1) lalu. Didampingi oleh Wakil Rektor IV ITS Bambang Pramujati ST MScEng PhD, Ketua Majelis Wali Amanat ITS Prof Dr Ir Muhammad Nuh DEA, dan sejumlah tim pengembang dari ITS yang terlibat.

Saat ini, i-nose c-19 masih pada tahap uji profil. Kemudian diperlukan banyak sampel pengujian dan beberapa tahap untuk dipasarkan ke masyarakat luas. Percepatan pengembangan alat berperan penting, karena hasilnya yang cepat dan harganya murah.

"Sampai sekarang, sudah ada enam i-nose c-19 yang berhasil diproduksi. Namun diperlukan sekitar 10 - 20 alat untuk kebutuhan pengujian sampel yang lebih banyak ke depannya. Alhamdulillah dari kementerian (Kemenristek/BRIN, red) mendukung dalam pembuatan alat baru dan operasionalnya nanti," kata guru besar Departemen Teknik Informatika ITS ini, dalam keterangan rilis yang diterima detikcom, Kamis (21/1/2021).

Namun, adapun kendala, salah satunya adalah ketersediaan komponen yang biasanya tersedia di Indonesia. Tetapi saat ini sedang kosong. "Sehingga harus impor dari negara lain yang membutuhkan waktu lebih lama," ujarnya.

Ryan menjelaskan, kecanggihan dari i-nose c-19 bisa dilihat dari cara kerjanya dengan memanfaatkan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk memproses sampel dari bau keringat ketiak. "Bau keringat akan diubah menjadi sinyal listrik yang kemudian diklasifikasikan menggunakan AI," kata Ryan.

Selain itu, terdapat fitur near-field communication (NFC) untuk memudahkan pengisian data yang cukup dengan menempelkan e-KTP pada alat deteksi cepat COVID-19. Penggunaan cloud computing sebagai penyimpan data juga mendukung i-nose c-19 agar dapat terintegrasi dengan publik, pasien, dokter, rumah sakit maupun laboratorium.

Setelah memasukkan nomor telepon, sertifikat elektronik yang menyatakan hasil tes positif atau negatif akan segera dikirimkan melalui pesan daring. Sehingga pemeriksaan membutuhkan waktu kurang lebih 3,5 menit.

Ryan berharap, semoga i-nose c-19 dapat segera dikomersialkan dalam waktu maksimal tiga bulan ke depan. "Melihat semakin meningkatnya penyebaran virus COVID-19 ini, dunia tentunya sangat membutuhkan banyak teknologi screening yang mudah dan cepat untuk diimplementasikan," harapnya.

Simak video '28 Laporan Efek Samping Vaksin Sinovac Tergolong Ringan':

[Gambas:Video 20detik]




(bdh/bdh)