Menikmati Bakpao Legendaris di Jombang Sambil Bernostalgia

Enggran Eko Budianto - detikNews
Minggu, 17 Jan 2021 13:47 WIB
bakpao tjuyen
Bakpao Tjuyen yang melegenda di Jombang (Foto: Enggran Eko Budianto)
Jombang -

Mengenang masa kecil di kampung halaman bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan berburu makanan yang melegenda di tanah kelahiran.

Seperti Bakpao Tjuyen yang sudah melegenda di Jombang. Masyarakat yang lahir tahun 1990-an pasti tidak asing dengan makanan tradisional China tersebut. Karena Bakpao Tjuyen eksis di Kota Santri sejak 1986.

Pemilik Bakpao Tjuyen, Sulastri (62) mengatakan bisnis ini awalnya digeluti almarhum suaminya, Karmudi sejak 1976. Mojokerto menjadi tempat awal Karmudi mengenalkan bakpao buatannya kala itu. Bapak lima anak tersebut sempat hijrah ke Madiun selama dua tahun.

Dia lantas kembali ke Mojokerto pada 1982-1985. Sejak 1986, Karmudi memutuskan untuk menetap di Jombang. Tepatnya di Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan. Menurut Sulastri, saat itu Tjuyen menjadi bakpao pertama yang masuk ke Kota Santri.

"Nama Tjuyen dulu milik bos suami saya di Surabaya. Dulu suami saya tukang masak bakpao ikut bosnya itu. Setelah bosnya meninggal, diteruskan suami saya," kata Sulastri kepada wartawan di rumahnya, Minggu (17/1/2021).

bakpao tjuyenBakpao Tjuyen sudah ada sejak 1986 di Jombang (Foto: Enggran Eko Budianto)

Bakpao Tjuyen tergolong legendaris di Jombang. Pasalnya, makanan tradisional China ini tetap eksis selama 35 tahun terakhir. Sulastri melanjutkan bisnis tersebut sejak suaminya meninggal dunia hingga saat ini.

"Ilmu membuat bakpao sudah kami turunkan ke semua anak saya. Dua bulan sebelum suami saya meninggal, semua anaknya diajari membuat bakpao," ungkapnya.

Terbukti, Bakpao Tjuyen masih digemari masyarakat Jombang hingga kini. Rata-rata setiap harinya, Sulastri menghabiskan 30 Kg tepung terigu untuk membuat 800 bakpao dengan 5 varian isian. Yaitu bakpao isi kacang hijau, daging ayam, stroberi, cokelat dan kacang tanah.

"Saya punya 5 penjual keliling. Per bijinya saya jual Rp 3.000. Rata-rata omzetnya Rp 1,5 juta per hari," terang ibu lima anak tersebut.

Selanjutnya
Halaman
1 2