Ada Desa Penghasil Tusuk Sate Standar Internasional di Blitar

Erliana Riady - detikNews
Sabtu, 02 Jan 2021 11:36 WIB
Sate merupakan makanan tradisional yang digemari masyarakat. Bayangkan, berapa juta tusuk sate yang dibutuhkan setiap harinya?
Tusuk sate/Foto: Erliana Riady
Blitar -

Sate merupakan makanan tradisional yang digemari masyarakat. Bayangkan, berapa juta tusuk sate yang dibutuhkan setiap harinya?

Desa di lereng Gunung Kawi ini merupakan salah satu sentra pembuatan tusuk sate. Namanya Desa Bumirejo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar.

Desa di lereng sisi barat daya Gunung Kawi ini melimpah potensi alamnya. Satu di antaranya yakni pohon bambu. Seorang pemuda kelahiran desa ini, melihat peluang bisnis itu bisa dikembangkan dari tanah kelahirannya.

Yonas Andri, pengusaha muda ini menerapkan sistem fifty-fifty untuk memulai debutnya memproduksi tusuk sate. Sebesar 50 persen produksi, menggalang kemitraan dengan sekitar 300 kepala keluarga. Dengan sistem bayar tunai, mitra bisnis menyetorkan tusuk sate mentahan yang kemudian dipoles di workshop-nya berlabel Bambu Jaya. Dan 50 persennya dikerjakan mulai dari nol di produksi induk.

"Awalnya di Bumirejo itu ada satu produksi induk dan dua produksi cabang. Kalau produksi induk itu memproses dari awal sampai finishing. Kalau cabang itu, produksi mitra kami finishing touch di sini," tutur pria berusia 29 tahun ini kepada detikcom, Sabtu (2/1/2021).

Karena ceruk pasar masih sangat luas, Yonaspun menambah produksi cabang di Desa Kemirigede yang masih di Kecamatan Kesamben. Di Desa Ampelgading Kecamatan Selorejo, supplier bahan tidak hanya dari warga di tiga kecamatan itu, namun meluas sampai Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar, Magetan, Ponorogo, Situbondo dan Probolinggo.

Saat ini, kapasitas produksi tusuk sate yang dihasilkan Yonas sekitar 15 ton per bulan. Padahal, itu tidak sampai 1,5 persen kebutuhan tusuk sate di Indonesia. Lalu dari mana asal tusuk sate yang berada di pasaran Indonesia?

Selanjutnya
Halaman
1 2