Begini Peran 3 Tersangka Pemalsu Hasil Rapid Test di Surabaya

Deny Prastyo Utomo - detikNews
Senin, 21 Des 2020 19:41 WIB
rapid test palsu
Tiga pelaku pembuatan hasil rapid test palsu digiring (Foto: Deny Prastyo Utomo)
Surabaya -

Polisi membongkar sindikat pembuatan hasil rapid test palsu. Tiga orang diamankan. Mereka adalah oknum yang bekerjasama agar hasil rapid test keluar tanpa penumpang kapal melakukan rapid test.

Tiga orang itu adalah M Roib (55) warga Pabean Cantikan yang merupakan agen perjalanan travel, Budi Santoso (36) warga Pabean Cantikan yang seorang calo penumpang, dan Syaiful Hidayat (46) warga Bubutan yang merupakan pegawai honorer salah satu puskesmas di Surabaya.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Ganis Setyaningrum mengatakan para tersangka mempunyai peran sendiri-sendiri. Yang bertugas mencari penumpang adalah tersangka Roib dan Budi. Surat hasil rapid test memang menjadi satu paket dengan tiket perjalanan.

"Setelah mendapatkan penumpang, mereka memberikan iming-iming surat keterangan rapid test tanpa melakukan tes. Tanpa mengambil darah, tanpa melakukan tes SOP protokol kesehatan yg dilakukan kesehatan. Membayar Rp 100 ribu mereka (penumpang) sudah bisa mendapatkan," ujar Ganis kepada wartawan di Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Senin (21/12/2020).

Setelah mendapatkan penumpang, Roib dan Budi menghubungi Syaiful. Syaifu sendiri di puskesmas bekerja sebagai cleaning service dan membantu bagian administrasi. Karena membantu administrasi itulah Syaiful jadi tahu tentang surat hasil rapid test.

Untuk membuat surat hasil rapid test, Syaiful cukup menerima kiriman foto KTP penumpang dari Roib dan Budi melalui WhatsApp. Dengan data dari KTP penumpang, Syaiful memasukkan identitas penumpang ke surat hasil rapid test.

Sebagai pamungkas, Syaiful mencap surat rapid test dengan hasil nonreaktif itu dengan stempel dokter yang dipalsukannya. Surat hasil rapid test kemudian diserahkan ke Roib. Oleh Roib surat itu ditandatanganinya sendiri atas nama dokter sesuai stempel, tetapi tanda tangannya dibuat sendiri olehnya alias tanda tangan ngawur.

"Stempelnya dibuat sendiri. Dokternya ada memang beliau berdinas. Tapi stempelnya dipalsukan oleh pegawainya sendiri," ungkap Ganis.

(iwd/iwd)