Golput di Pilwali Surabaya Didominasi Perumahan Mewah dan Apartemen

Esti Widiyana - detikNews
Kamis, 10 Des 2020 16:07 WIB
Komisioner KPU Surabaya Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM, Subairi
Komisioner KPU Surabaya (Foto file: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Separuh warga Surabaya tidak melakukan hak pilihnya di Pilkada 2020 atau golput. KPU Surabaya menyebut, wilayah perumahan mewah dan apartemen yang dianggap minim jumlah pemilihnya. Hal itu menjadi evaluasi bagi KPU.

"Ada beberapa laporan terutama di wilayah perumahan, hampir tiap pilwali menjadi evaluasi di wilayah perumahan dan apartemen," kata Komisioner KPU Surabaya Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM, Subairi kepada wartawan di kantornya Jalan Adityawarman, Kamis (10/12/2020).

Namun, saat ditanya alasan mengapa perumahan mewah dan apartemen banyak yang golput, Subairi justru kurang memahaminya. Rupanya, permasalahan ini sudah menjadi langganan di setiap pilkada.

"Itu saya kurang paham (alasannya) tapi yang pasti dari pilwali ke pilwali ketertarikan datang ke TPS di bawah rata-rata. Padahal inovasi yang dilakukan KPPS, seperti di Citra Land pakai superhero dan mendekatkan TPS ke perumahan kan itu salah satu cara, kemudian untuk menggaet partisipasi masyarakat. Cuman kan kita kembalikan ke pemilih, karena itu semuanya yang menentukan datang nggak datang ke pemilih untuk menggunakan hak pilihnya," jelasnya.

Subairi menambahkan kawasan perumahan mewah minim pemilih ada di dua wilayah Surabaya. Sementara partisipasi masyarakat yang antusias seperti di daerah Dukuh Pakis.

"Kayak di barat, rata-rata perumahan (Mewah), timur juga (Minim pemilih). Tapi kawasan Surabaya Utara tingkat partisipasinya luar biasa yang datang ke TPS. Dukuh pakis luar biasa, Sukomanggal. Kawasan Perumahan Pakal, Sambikerep, Lakarsantri ya tidak jauh dengan partisipasi pemilih dengan sebelumnya (minim)," ujarnya.

Meski perumahan mewah minim pemilih, namun bisa ditutupi dengan partisipasi warga lainnya. Seperti pasien COVID-19 dan narapida yang memiliki antusias tinggi dalam menggunakan hak pilihnya.

Sebelumnya, Komisioner KPU Surabaya Subairi menyebut ada sekitar 50 persen warga yang tidak menggunakan hak pilihnya.

"Tapi secara umum kedatangan pemilih ke TPS di angka 50-60 persen," kata Subairi kepada wartawan di Kantor KPU Surabaya.

Namun Subairi tidak bisa menyebutkan angka pasti jumlah warga Surabaya yang golput pada Pilkada 2020. Sebab saat ini PPK masih melakukan rekapitulasi di tiap kecamatan dan belum disetorkan ke KPU.

(fat/fat)