Ngotot Liburan Akhir Tahun, Pilih Wisata Terbuka yang Tak Berkerumun

Muhajir Arifin - detikNews
Jumat, 04 Des 2020 18:25 WIB
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pasuruan dr Sudjarwo
Ketua IDI Pasuruan dr Sudjarwo (Foto: Muhajir Arifin)
Pasuruan -

Masyarakat yang merayakan libur akhir tahun diminta memilih tempat wisata terbuka yang tidak berpotensi memunculkan kerumunan. Masyarakat juga dianjurkan makan di restoran atau warung yang mematuhi protokol kesehatan.

"Sebenarnya jauh hari diusulkan libur akhir tahun kalau bisa ditiadakan. Tapi pemerintah sudah memutuskan libur akhir tahun hanya dikurangi, ya tentu kita sebagai unit layanan kesehatan harus waspada. Bagi masyarakat saat libur tolong tetap patuhi protokol kesehatan," kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pasuruan, dr Sudjarwo, Jumat (4/12/2020).

Sudjarwo mengakui berekreasi bisa memperkuat imunitas tubuh. Jika berekreasi, masyarakat diimbau memilih wisata yang aman.

"Tolong hindari wisata-wisata yang sifatnya bisa tumbuhkan kerumunan. Kalau ingin rekreasi ya cari tempat yang nggak ramai dengan pengunjung, tempat terbuka, wisata alam," harap Sudjarwo.

Sudjarwo juga mengingatkan potensi besar penularan COVID-19 di restoran maupun warung makan. Masyarakat dianjurkan memilih restoran maupun warung yang mematuhi protokol kesehatan.

"Jangan lupa, tempat makan dan minum itu sebetulnya yang paling banyak (jumlahnya) dan sedikit terlupakan. Jangan beli makanan yang penjualnya nggak pakai masker, cari tempat yang benar-benar menjaga protokol kesehatan. Di tempat kita (Pasuruan) itu masih banyak yang jual-jual nggak pakai masker padahal di situ sumber penularan karena ketika kita makan kan nggak mungkin pakai masker. Kalau terpaksa beli upayakan dibungkus saja lah," ungkapnya.

Potensi kluster tempat makan ini, kata Sudjarwo, harus jadi perhatian. Potensinya lebih besar dari tempat wisata.

"Kalau di tempat wisata relatif orang sudah jaga jarak, pakai masker, kemudian ada petugas yang mengingatkan, sarananya juga ada. Kalau di tempat makan ini tersebar, siapa yang mau ngawasi. Kesadaran masyarakat sendiri. Restoran yang besar-besar relatif patuh, tapi yang kecil dan warung-warung makan yang nggak patuh," pungkasnya.

(iwd/iwd)