Investasi Bodong Rp 15 M Berkedok Jual Beli Valas di Surabaya Dibongkar

Hilda Meilisa - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 15:53 WIB
investasi bodong
Polisi mengunkap investasi bodong berkedok jual beli valas (Foto: Hilda Meilisa Rinanda)
Surabaya -

Polisi mengungkap kasus investasi bodong dengan kerugian mencapai Rp 15 Miliar. Tersangka melakukan aksinya dengan berkedok jual beli valas atau mata uang asing.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan tersangka berinisial PP (39), warga Kediri. Kasus ini diungkap usai menindaklanjuti dari laporan korban pada 18 Agustus 2020.

"Ada satu korban yang melaporkan, dia sekaligus mewakili 15 orang yang menjadi korban. Total investasi yang masuk sebesar Rp 15 miliar, namun jumlah investasi per orang beragam," kata Truno di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Rabu (25/11/2020).

Truno menambahkan dari keterangan korban, penipuan ini sudah terjadi sejak tahun 2017 hingga tahun 2018. Tak hanya itu, Truno menyebut modus ini terus berkembang karena kepercayaan dari para korban terhadap pelaku.

Hal ini didasari karena pelaku merupakan rekan dekat korban ketika masih berstatus sebagai karyawan di Bank Jatim. Pelaku menawarkan korban agar mau melakukan investasi dengan iming-iming sejumlah keuntungan, namun hingga kini, keuntungan tersebut tak pernah didapatkan.

"Produk investasinya adalah jual beli mata uang asing dengan keuntungan yang dijanjikan 5 sampai 6 persen. Namun, sampai sekarang korban ini tidak pernah mendapatkan sepeserpun keuntungan," imbuh Truno.

Dari hasil investigasi polisi, Truno mengatakan uang yang didapat pelaku yang seharusnya digunakan untuk membeli aset, justru digunakan untuk kepentingan pribadi. Misalnya untuk membeli aset rumah di Perumahan Citra Garden Sidoarjo, mobil sedan BMW, mobil SUV BMW, sepeda motor Honda Scoopy, beberapa handphone, dokumen rumah, dokumen kendaraan, hingga buku rekening.

Atas perbuatannya, PP dijerat Pasal 378 dan atau Pasal 372 KUHP tentang Tindak Pidana Penipuan dana atau Penggelapan dengan ancaman maksimal empat tahun. Kendati demikian, Truno menyebut pihaknya masih mencari tersangka lain.

"Meski sudah ditetapkan satu tersangka, namun penyidikan terus berjalan karena dimungkinkan ada tersangka lain," pungkasnya.

(hil/iwd)