Komunitas Pasinaonan Jawa Kuno, Belajar Bahasa Kawi Telusuri Kebenaran Sejarah

Erliana Riady - detikNews
Rabu, 18 Nov 2020 08:16 WIB
Komunitas Pasinaonan Jawa Kuno
Komunitas Pasinaonan Jawa Kuno membaca huruf Jawa kuno di situs cagar budaya (Foto: Erliana Riady)
Blitar -

Di Blitar ada komunitas yang saling belajar bahasa Jawa kuno. Komunitas ini adalah pasinaonan Jawa kuno. Komunitas ini belajar bersama huruf Jawa Kuno yang banyak terpahat di situs cagar budaya untuk menelurusi kebenaran sejarah.

Beberapa literasi menulis, huruf Jawa kuno disebut aksara Kawi dari bahasa Sanskerta 'kavi' yang berarti pujangga. Aksara Jawa Kuno adalah turunan aksara Brahmi historis yang digunakan di wilayah Asia Tenggara maritim sekitar abad ke-8 hingga 16. Yakni dimulai di era Kanjuruhan pada Prasasti Dinoyo yang berangka 682 saka atau 760 Masehi hingga masa Demak.

Aksara Jawa Kuno atau lebih dikenal dengan aksara Kawi adalah sebuah aksara yang dikembangkan oleh leluhur kita di Nusantara yang berawal dari aksara Pallawa. Aksara Jawa kuno memiliki sekitar 33 aksara konsonan dan 16 aksara vokal. Sangat berbeda dengan aksara Jawa Baru atau Carakan yang hanya 20 aksara saja. Aksara Jawa Baru atau Carakan sendiri baru ada di era Mataram Islam.

Gagasan komunitas pasinaonan Jawa kuno ini lahir dari Andri Setiawan. Warga Kecamatan Talun Kabupaten Blitar ini memang alumni Unesa jurusan Bahasa dan Sastra Jawa. Pada tahun 2019 lalu, dia diundang kelompok sadar wisata (pokdarwis) Desa Sawentar Kecamatan Kanigoro untuk berbagi ilmu aksara Kawi. Pokdarwis ini berada di lokasi Candi Sawentar, sehingga pemuda pemudi di sana ingin mengetahui bacaan dan arti aksara Kawi yang banyak terpahat di situs sejarah itu.

"Waktu itu ada 10 orang. Kami belajar bersama beberapa saat. Setelah itu langsung dipraktikkan dengan membaca aksara Kawi yang terpahat di relief Candi Sawentar," tutur Andri kepada detikcom, Rabu (18/11/2020).

Setelah kelompok ini mandiri, awal tahun 2020 Andri kemudian mendapat tawaran berbagi ilmu kepada komunitas macapat Sanggar Abdi Ingsun. Di komunitas ini anggotanya beragam. Mulai pelajar, guru, mahasiswa sampai masyarakat pecinta kesenian Jawa. Ada sekitar 25 orang yang belajar aksara Kawi dan penanggalan kuno ini.

Menurut Andri, mereka yang tertarik bergabung di pasinaonan Jawa kuno adalah warga yang punya rasa penasaran tinggi terhadap situs bersejarah. Seperti di Blitar sendiri, banyak ditemukan situs-situs bersejarah peninggalan zaman kerajaan.

"Mayoritas mereka punya anggapan, kalau kita tidak bisa membaca aksara Kawi yang dipakai para leluhur untuk menulis dokumentasi sejarah bangsa ini, maka kita sangat mudah dibelokkan sejarahnya," ungkapnya.

Apa alasan anggota komunitas belajar bahasa Jawa kuno?

Selanjutnya
Halaman
1 2