Saat Gunung Welirang-Anjasmoro Bertopi Awan Lentikularis

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kamis, 05 Nov 2020 12:20 WIB
Warga Mojokerto dibuat takjub oleh keindahan awan lentikularis di atas Gunung Welirang dan Anjasmoro, Kecamatan Pacet. Gunung tersebut seperti memakai topi.
Awan lentikularis di atas Gunung Welirang dan Anjasmoro/Foto: Istimewa
Mojokerto -

Warga Mojokerto dibuat takjub oleh keindahan awan lentikularis di atas Gunung Welirang dan Anjasmoro, Kecamatan Pacet. Gunung tersebut seperti memakai topi.

Fenomena gunung bertopi awan yang terjadi pagi tadi tersebut berlangsung sekitar 30 menit. Kehadiran awan lentikularis diabadikan oleh Relawan Punokawan Mojopahit, Ahmad Faizin (32). Dia memotret awan tersebut dari beberapa titik di kawasan Sendi, Desa/Kecamatan Pacet pukul 05.30-06.00 WIB.

Menurut dia, ada dua awan lentikularis yang muncul pagi tadi. Yakni melingkar di atas Gunung Welirang dan di langit antara Gunung Welirang dengan Pegunungan Anjasmoro. Awan mirip topi yang menghiasi puncak Welirang tampak indah saat terkena cahaya mentari.

Warga Mojokerto dibuat takjub oleh keindahan awan lentikularis di atas Gunung Welirang dan Anjasmoro, Kecamatan Pacet. Gunung tersebut seperti memakai topi.Awan Lentikularis di Mojokerto/ Foto: Istimewa

"Fenomena awan tersebut berlangsung sekitar 30 menit. Semua foto saya ambil dari kawasan Sendi, tapi dari beberapa lokasi berbeda," kata Faizin saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (5/11/2020).

Fenomena awan lentikularis, lanjut Faizin, baru kali ini terjadi di wilayah Pacet, Kabupaten Mojokerto. "Saat ada fenomena awan tersebut, kondisi cerah, angin juga normal. Setelah awan hilang juga tetap cerah," terangnya.

Warga Mojokerto dibuat takjub oleh keindahan awan lentikularis di atas Gunung Welirang dan Anjasmoro, Kecamatan Pacet. Gunung tersebut seperti memakai topi.Awan Lentikularis di Mojokerto/ Foto: Istimewa

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Juanda Teguh Tri Susanto menjelaskan, awan melingkar berlapis-lapis di atas Gunung Welirang itu merupakan awan lentikularis. Fenomena langka ini terjadi akibat adanya gelombang gunung atau angin lapisan atas.

"Angin lapisan atas yang cukup kuat dari suatu sisi gunung membentur dinding pegunungan sehingga menimbulkan turbulensi di sisi gunung lainnya dan membentuk awan-awan bertingkat yang berputar seperti lensa," ungkapnya.

(sun/bdh)