Pabrik Kabel Kendaraan di Mojokerto Didemo, Warga Tuntut Pengelolaan Limbah

Enggran Eko Budianto - detikNews
Senin, 02 Nov 2020 16:57 WIB
demo warga mojokerto
Demo warga tuntut pabrik wiring harness memberikan limbahnya ke warga (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto -

Puluhan warga berunjuk rasa di depan PT Surabaya Autocomp Indonesia (SAI), Mojokerto. Massa menuntut manajemen pabrik kabel kendaraan atau wiring harness itu menyerahkan limbahnya untuk dikelola warga Desa Lolawang.

Massa berorasi tepat di depan pintu gerbang PT SAI di Desa Lolawang, Kecamatan Ngoro. Sehingga kendaraan tidak bisa keluar maupun masuk dari perusahaan modal asing (PMA) asal Jepang tersebut.

"Kami menuntut hak kami untuk mengelola avalan atau limbah dari PT SAI. Karena selama 18 tahun limbah tersebut dikelola warga desa lain atau perorangan," kata Tokoh Masyarakat Desa Lolawang Akhmad Saiful Rozi (40) kepada wartawan di lokasi unjuk rasa, Senin (2/11/2020).

Saiful menjelaskan limbah PT SAI berupa kardus, sisa potongan kabel, sampah dapur, tembaga dan palet. Nilai barang-barang avalan dari pabrik wiring harness ini mencapai Rp 4-5 miliar per bulan. Limbah bernilai ekonomis tinggi itu dikelola perusahaan dari desa lain selama 18 tahun terakhir.

"Kami meminta limbah atau avalan itu dikelola BUMDes Lolawang. Hasilnya untuk pembangunan infrastruktur Desa Lolawang, untuk menyantuni warga kurang mampu, beasiswa untuk anak-anak berprestasi dan kurang mampu," terang Saiful.

Upaya warga Desa Lolawang meminta pengelolaan limbah PT SAI, lanjut Saiful, sudah 8 kali melalui proses mediasi. Baik mediasi yang difasilitasi Camat Ngoro, Polsek Ngoro, maupun Kapolres Mojokerto. Pihak perusahaan pun meminta warga melengkapi 16 syarat administrasi.

"Kelengkapan administrasi untuk pengangkutan limbah, izin angkut, izin lingkungan, ada 16 item syarat sudah kami lengkapi. Namun saat MoU, PT SAI mengingkari terus sampai 8 kali," ungkapnya.

Sampai saat ini massa masih bertahan di pintu gerbang PT SAI. Massa menutup akses pabrik kabel kendaraan itu sampai tuntutan mereka dipenuhi manajemen perusahaan.

Kepala Desa Lolawang Sugiarto menjelaskan, warganya meminta pengelolaan limbah PT SAI karena pabrik wiring harness ini berada di kampung mereka. Menurut dia, barang-barang avalan akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Lolawang.

"Manajemennya bukan kades. Kalau diberikan ke desa, maka dikelola BUMDes. Hasilnya masuk ke kas desa sebagai PADes (Pendapatan Asli Desa Lolawang)," jelasnya.

Ia menambahkan, selama ini PT SAI sudah memberi bantuan ke Desa Lolawang dan dusun-dusun di desa ini. Nilainya sekitar Rp 100 juta dalam satu tahun. Namun, bantuan tersebut dinilai terlalu kecil.

"Tolong beri kesempatan warga kami untuk mengelola sendiri (limbah PT SAI) biar perekonomian meningkat," tandas Saiful.

(iwd/iwd)