7 Kabupaten di Jatim Terdampak Bencana, Mulai Banjir Hingga Tanah Longsor

Hilda Meilisa - detikNews
Senin, 02 Nov 2020 14:05 WIB
Hujan Kembali Mengguyur, Banjir Makin Parah Menerjang Sejumlah Desa Pasuruan
Banjir di Pasuruan (Foto: Muhajir Arifin)
Surabaya -

BPBD Jatim menerima laporan adanya sejumlah daerah di Jatim yang mengalami bencana alam. Bencana alam ini mulai dari tanah longsor, banjir, hingga angin kencang.

Kasi Kedaruratan BPBD Jatim Satriyo Nur Seno mengatakan totalnya ada tujuh kabupaten yang terdampak bencana. Satriyo mengatakan lima kabupaten terkena banjir, satu tanah longsor, dan satu lagi angin kencang.

Tak hanya itu, Satriyo menyebut lima kabupaten yang terkena banjir yakni di Kabupaten Pasuruan, Mojokerto Jombang, Madiun, dan Trenggalek.

Sementara untuk kabupaten yang terdampak bencana tanah longsor ada di Kabupaten Lumajang. Sedangkan di Kabupaten Ponorogo terjadi angin kencang.

"Untuk korban jiwa dan kerugian materil nihil," kata Satriyo saat dikonfirmasi di Surabaya, Senin (2/11/2020).

Satriyo memaparkan bencana alam banjir terjadi sejak Sabtu (31/10) malam di Kabupaten Pasuruan, Jombang dan Mojokerto. Banjir ini merupakan dampak dari hujan lebat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Sementara untuk banjir di Kabupaten Madiun dan Trenggalek baru terjadi Senin (2/11) pagi. "Per pagi ini ada tambahan Kabupaten Madiun dan Trenggalek. Banjir luapan," tambahnya.

Hingga kini, Satriyo menyebut BPBD di tiap kabupaten atau kota yang terdampak banjir masih terus melakukan penindakan. Misalnya memberikan bantuan pada masyarakat yang terdampak.

"BPBD kabupaten atau kota sudah melalukan beberapa upaya seperti bantuan untuk logistik dan peralatan evakuasi," papar Satriyo.

Di kesempatan yang sama, Satriyo menyebut kondisi terkini banjir di Kabupaten Mojokerto dan Jombang sudah mulai surut. Hal ini juga terjadi di Madiun dan Trenggalek.

Sedangkan di Pasuruan, Satriyo mengatakan laporan yang diterimanya, air masih tinggi karena ada faktor pasang air laut. Akibatnya, sebagian warga yang terdampak terpaksa mengungsi.

"Mengungsi dalam arti hanya di tempat tetangga atau keluarga saja. Dalam skala kecil," pungkas Satriyo.

(hil/iwd)