Emak-emak di Mojokerto yang Tak Nikmati Libur Panjang Dihadiahi Sembako

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 30 Okt 2020 17:40 WIB
polres mojokerto
Polisi membagikan beras kepada emak-emak di Mojokerto yang tak berlibur (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto -

Kedatangan mobil jimpitan beras Polres Mojokerto mengobati kegundahan puluhan emak-emak yang tidak bisa berlibur karena terdampak ekonomi pandemi COVID-19. Menggunakan mobil tersebut, polisi membagikan sembako kepada emak-emak yang memilih tetap di rumah untuk mencegah klaster baru selama libur panjang.

Kedatangan dua mobil jimpitan beras Polres Mojokerto disambut puluhan emak-emak di depan kantor Desa Tinggarbuntut, Kecamatan Bangsal. Mereka berbaris sambil memakai masker dan menjaga jarak untuk menunggu giliran menerima beras serta mi instan dari polisi.

Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander memimpin langsung bakti sosial di Desa Tinggarbuntut ini. Dony dibantu Waka Polres Mojokerto Kompol David Prasojo, Kasat Lantas AKP Randy Asdar, Kasat Reskrim AKP Rifaldhy Hangga Putra, serta anggota polisi lainnya membagikan sembako ke puluhan emak-emak.

Dony mengatakan, pada bakti sosial kali ini, pihaknya membagikan 1 ton beras dan puluhan bungkus mi instan menggunakan mobil jimpitan beras Polres Mojokerto. Bagi-bagi sembako ini untuk mengapresiasi masyarakat yang memilih tinggal di rumah selama libur panjang 28 Oktober-1 November 2020. Karena kondisi perekonomian mereka sedang sulit akibat pandemi COVID-19.

"Kami turun menggunakan mobil jimpitan ini untuk memberi rasa tenang kepada masyarakat agar tetap tinggal di rumah untuk mencegah klaster baru di masa libur panjang ini. Sehingga masyarakat yang tinggal di rumah saja juga bisa berbahagia dengan mendapatkan bantuan ini," kata Dony kepada wartawan di lokasi bakti sosial, Jumat (30/10/2020).

Kehadiran polisi dengan mobil jimpitan untuk membagi-bagikan sembako tentu saja membuat emak-emak di Desa Tinggarbuntut senang. Karena selain tidak bisa berlibur, mereka juga sedang kesulitan ekonomi akibat pandemi virus Corona yang tak kunjung berakhir.

Seperti yang dirasakan Istibsurotul Insiyah (24). Perekonomian keluarganya terseok-seok sejak suaminya menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Juni lalu. Betapa tidak, suaminya yang sebelumnya bekerja di pabrik keramik selama ini menjadi tulang punggung keluarganya.

"Saya senang sekali dapat bantuan beras karena suami saya kena PHK. Ini sangat membantu untuk makan kami sekeluarga," terangnya.

Hal senada dilontarkan Ida (36), emak-emak yang juga warga Desa Tinggarbuntut. Pandemi COVID-19 membuat penghasilan suaminya sebagai buruh pabrik mebel berkurang drastis karena sering kali diliburkan. Kini suaminya rata-rata hanya menghasilkan Rp 2 juta per bulan. Bantuan sembako yang dia terima kali ini setidaknya untuk menyambung hidup keluarganya.

"Kondisi ekonomi kami sangat tersumbat selama pandemi. Suami kerja di pabrik mebel banyak liburnya. Penghasilannya tidak cukup karena anak dua, yang satu masih kecil butuh susu, satunya sudah sekolah. Saya belum dapat bantuan dari pemerintah," tandasnya.

(iwd/iwd)