Buruh di Jatim Berencana Turun ke Jalan Tolak Omnibus Law Tepat Hari Pahlawan

Esti Widiyana - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 18:38 WIB
Ribuan demonstran mendatangi Kantor Gubernur Jawa Timur. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penolakan atas disahkannya omnibus law UU Cipta Kerja.
Demo omnibus law di Surabaya (Foto file: Deny Prastyo Utomo/detikcom)
Surabaya -

Demo Omnibus Law UU Cipta Kerja akan kembali digelar di Surabaya. Rencananya aksi ini digelar 10 November 2020, tepat Hari Pahlawan. Aksi bertepatan hari pahlawan ini sebuah spirit buruh memperjuangkan penolakan Omnibus Law.

"Iya, rencana tanggal 2, 9 dan 10 itu instruksi nasional, cuma kami dari Jawa Timur belum rapat karena baru selesai demo kemarin. Mungkin minggu ini baru rapat. Untuk aksi besarnya di tanggal 10 karena bertepatan dengan Hari Pahlawan," kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Jatim Nuruddin Hidayat, Kamis (28/10/2020).

Nuruddin mengajak seluruh buruh di Jatim untuk tetap teguh dan semangat dalam memperjuangkan hak yang belum didapatkan. Salah satunya memperjuangkan upah tahun 2021.

Demo Ini kembali dilakukan berdasarkan Surat Edaran No M/11/HK.04/2020 yang telah dikeluarkan oleh Menteri Ketenagakerjaan terkait 2021 tidak ada kenaikan upah minimum. Artinya, upah yang diterima stahun depan tidak ada bedanya dengan tahun ini.

Menurutnya, alasan pemerintah membuat kebijakan tersebut guna penanganan pandemi COVID-19. Oleh karena itu pemerintah tidak menaikan upah minimun buruh di tahun 2021.

"Pada intinya terkait upah minimun yang sudah ada surat edaran dari menteri, bahwasannya upah minimum di tahun 2021 itu tidak ada kenaikan. Alasannya pandemi, pandemi ini kan bukan hanya pengusaha, tapi yang paling terdampak adalah buruh dan rakyat kecil juga," jelasnya.

FSPMI Jatim juga membandingkan krisis ekonomi di tahun 1998 dengan kondisi saat ini. Pasalnya, di pada 1998 saat ekonomi mengalami minus 13 persen, pemerintah tetap menaikkan upah minimum.

"Kita membandingkan krisis ekonomi tahun 98, itu minus 13% tapi itupun masih ada kenaikan upah. Sekarang baru minus 5% masa gak ada kenaikan upah," pungkasnya.

(fat/fat)