Unair Miliki Guru Besar Biofisika untuk Pertama Kalinya

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 12 Okt 2020 11:54 WIB
Guru Besar Biofisika, yakni Prof Dr Suryani Dyah Astuti SSi MSi.
Guru Besar Biofisika Prof Dr Suryani Dyah Astuti SSi MSi (Foto: Istimewa)

Selain itu, terdapat fotosensitiser berukuran nano (10-9m) yang dapat meningkatkan persentase serapan energi, sehingga lebih efektif menghasilkan Reactive oxgen Species (ROS). Maka, akan diketahui hasil penelitian menunjukkan bahwa silver nano particle (AgNPs) efektif untuk meningkatkan reduksi biofilm bakteri.

"Sebagai contoh lain nano doxycycline adalah doxycyclin ukuran nano yang memiliki kemampuan lebih untuk penetrasi pada biofilm dan mampu menyerap energi cahaya yang lebih besar karena luasnya permukaan serapan cahaya. Penggunaan nano doxycycline pada bakteri planktonik dan biofilm menghasilkan efek reduksi yang signifikan," urainya.

Dyah bersama tim juga telah mengembangkan instrumen medis. Dengan memanfaatkan berbagai produk, salah satunya dentolaser biomodulasi yang bermanfaat untuk proses penyembuhan luka dan akupuntur.

"Pengembangan tersebut dimulai dari tahun 2007 dengan hewan uji mencit dan dikembangkan hingga menjadi produk yang telah masuk paten," pungkasnya.

Dalam dunia kesehatan, sejak tahun 1990 telah dibuktikan bahwa bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia mampu membentuk biofilm. Biofilm adalah suatu komunitas sel bakteri yang terstruktur dan saling menempel, yang mampu melekat pada permukaan biologis maupun benda mati. Biofilm tersebut berhubungan dengan penyakit kronis.

Dengan formasi tersebut menyebabkan bakteri pembuat biofilm mampu bertahan terhadap lingkungan ekstrim yang membahayakan. Secara klinis dari infeksi bakteri tersebut menyebabkan adanya resistensi (penghambat, Red) terhadap antibiotik. Hanya saja, terapi antibiotik umumnya hanya membunuh sel-sel bakteri planktonic (yang berenang-berenang di luar biofilm) sedang bakteri yang tersusun rapat dalam biofilm akan tetap hidup dan berkembang.


(fat/fat)