Unair Miliki Guru Besar Biofisika untuk Pertama Kalinya

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 12 Okt 2020 11:54 WIB
Guru Besar Biofisika, yakni Prof Dr Suryani Dyah Astuti SSi MSi.
Guru Besar Biofisika Prof Dr Suryani Dyah Astuti SSi MSi (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Universitas Airlangga (Unair) Surabaya pertama kalinya mengkukuhkan Guru Besar Biofisika, yakni Prof Dr Suryani Dyah Astuti SSi MSi. Dalam mencapai gelar barunya, Dyah menyampaikan inovasi pengembangan instrumen medis berbasis fotonik untuk terapi antimikroba dan biomodulasi. Yakni, metode alternatif untuk mengatasi infeksi biofilm pada penyakit kronis.

Terapi fotodinamik merupakan suatu metode yang digunakan untuk menghilangkan suatu sel yang berbahaya, seperti mikroba, kanker dan penyakit infeksi. Inovasi tersebut mengkombinasikan cahaya, fotosensitiser dan oksigen yang akan menyebabkan fotoinaktivasi pada bakteri.

"Yaitu penghambatan aktivitas metabolisme sel karena kerusakan membran sitoplasmik akibat peroksidasi oleh oksigen reaktif," kata Dyah, Senin (12/10/2020).

Menurutnya, fotosensitisasi sebagai salah satu kombinasi proses penyerapan cahaya oleh molekul fotosensitiser. Selanjutnya mengaktivasi terjadinya reaksi kimia untum menghasilkan berbagai spesies oksigen reaktif.

Fotosensitisasi sendiri bergantung pada jenis dan konsentrasi dari porfirin yang berperan sebagai molekul penyerap cahaya. Secara alamiah, beberapa bakteri mensintesis senyawa porfirin sebagai molekul endogen fotosensitiser memiliki sifat peka terhadap cahaya.

"pektrum porfirin terdiri atas dua pita terpisah, muncul pada daerah ultraviolet dekat dan daerah cahaya tampak, yang menyebabkan porfirin kaya warna. Kepekaan terhadap cahaya ini terutama berkaitan dengan panjang gelombang cahaya yang dipaparkan. Kebanyakan porfirin memiliki serapan pada daerah sinar tampak (400 - 700 nano meter)," jelas Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi ini.

Selanjutnya
Halaman
1 2