Upacara di Monumen Kresek, Kenang Pejuang Gugur pada Masa PKI 1948

Sugeng Harianto - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 13:22 WIB
Monumen Kresek menjadi tanda kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1948 di Madiun. Kala itu PKI membantai sejumlah tokoh dan ulama Madiun.
Forkopimda Madiun usai upacara di Monumen Kresek/Foto: Sugeng Harianto/detikcom
Madiun -

Monumen Kresek menjadi tanda kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1948 di Madiun. Kala itu PKI membantai sejumlah tokoh dan ulama Madiun.

Setiap 1 Oktober yang ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila, digelar upacara di monumen tersebut. Kali ini, Bupati Madiun H Ahmad Dawami yang menjadi inspektur upacara, mengajak generasi muda tidak melupakan sejarah.

"1 Oktober di Kabupaten Madiun pasti ada upacara di sini (Monumen Kresek). Di sini ini tempat bersejarah di Kabupaten Madiun. Karena pada saat itu titik kemenangan," ujar Ahmad Dawami usai upacara di Monumen Kresek, Kamis (1/10/2020).

Dalam sejarah yang sebenarnya, kata bupati yang akrab disapa Kaji Mbing, Madiun hanya jadi tempat pelarian pembantaian para korban. "Sejarahnya, di titik balik katakanlah PKI diserang mundur dari sini (Desa Kresek Madiun), dari timur dan dari barat akhirnya lari ke Ponorogo. Para pejuang kita dari unsur TNI, Polri, para kiai berpulang meninggal dunia karena keganasan PKI," kata Kaji Mbing.

Ia meminta generasi muda untuk tidak melupakan sejarah kelam keganasan PKI. "Momen ini kita ingin mengingatkan kepada semuanya, pada saat itu banyak para pejuang kita dari unsur TNI, Polri, para kiai ulama meninggal dunia karena keganasan PKI," jelasnya.

"Momen hari ini pandemi (COVID-19) bahwa para pendahulu kita berjuang seperti itu untuk mempertahankan negara ini, berjuang rela segalanya. Seperti itu hari ini di musim pandemi ini kita harus berkaca. Di situ pandemi adalah ancaman bagi negara ancaman yang bisa menyebabkan, katakanlah generasi ini hancur kalau dibiarkan. Kita tidak untuk berperang melawan penjajah tapi melawan COVID-19, dengan hanya disiplin pakai masker pasti protokol lain disiplin juga," imbuhnya.

Pantauan detikcom, upacara tahun ini hanya diikuti perwakilan instansi karena di tengah pandemi COVID-19. Selain bupati dan sang istri, turut hadir Forkopimda lainnya beserta istrinya masing-masing. Yakni Kapolres Madiun AKBP Bagoes Wibisono, Dandim 0803 Madiun Letkol CZI Nur Alam Sucipto serta perwakilan dari Lanud Iswahjudi.

(sun/bdh)