Faktor Ekonomi Jadi Alasan Wanita di Ponorogo Menuntut Cerai

Charolin Pebrianti - detikNews
Rabu, 30 Sep 2020 13:03 WIB
Pernikahan dini meningkat signifikan di Ponorogo selama pandemi COVID-19. Atau jika dibandingkan tahun 2019.
Pengadilan Agama Ponorogo (Foto: Charolin Pebrianti/detikcom)
Ponorogo -

Kasus perceraian di Ponorogo ternyata didominasi wanita. Sebab, data di Pengadilan Agama (PA) Ponorogo menunjukkan permintaan cerai yang diajukan oleh pihak wanita lebih banyak dibanding pria.

Data tahun 2019 periode Januari hingga Agustus, cerai talak hanya 422 kasus sedangkan cerai gugat dua kali lipat sebanyak 1.044 kasus.

Sedangkan di tahun 2020 dengan periode sama, cerai talak hanya 351 kasus sedangkan cerai gugat mencapai 966 kasus.

"Ini fenomena dari tahun ke tahun, pihak istri memang lebih banyak menggugat cerai daripada suami," tutur Panitera PA Ponorogo Ishadi kepada wartawan, Rabu (30/9/2020).

Ishadi menjelaskan perceraian yang telah diajukan ke PA sebagian besar disebabkan faktor ekonomi. Selain itu adanya pertengkaran terus menerus hingga diikuti faktor meninggalkan salah satu pihak juga terbanyak.

"Ada 784 kasus karena faktor ekonomi, 197 kasus meninggalkan salah satu pihak dan 150 kasus pertengkaran terus menerus," ujar Ishadi.

Sementara selama pandemi COVID-19 Ishadi mengaku tetap menerima pengajuan perceraian namun pihaknya menerapkan protokol kesehatan secara ketat dalam menggelar layanan.

Pasalnya, sejumlah PA di daerah lain terpaksa menerapkan lockdown akibat menjadi pusat penyebaran COVID-19.

"Kami sangat berhati-hati. Banyak PA sudah lockdown karena beberapa hakimnya terpapar, seperti di Surabaya. Mudah-mudahan di Ponorogo tidak terjadi," pungkas Ishadi.

Lihat juga video 'Saat Karantina COVID-19, Angka Perceraian di Arab Saudi Meningkat':

[Gambas:Video 20detik]



(fat/fat)