Jeritan Produsen Masker Sejak Warga Tak Dianjurkan Pakai Scuba

Deny Prastyo Utomo - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 17:38 WIB
masker scuba
Masker scuba (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Masker scuba tidak dianjurkan digunakan untuk mencegah penyebaran COVID-19. Lantas bagaimana dampaknya bagi para pembuat masker scuba dengan adanya imbauan tersebut. Apakah mereka merugi?

Salah satu pembuat masker scuba adalah Sugiharto yang mengaku terdampak dengan adanya imbauan tersebut. Akibatnya, ratusan biji masker scuba yang sudah terpesan akhirnya dibatalkan pemesan.

"Dampaknya ada pesanan sekitar 10 ribu masker ter-cancel," kata Sugiharto saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (22/9/2020).

Sugik panggilan akrab pria asal Surabaya ini, menyayangkan terkait imbauan itu. Menurutnya, jika itu tidak dianjurkan maka pembuat atau produsen yang sudah terlanjur membuat ribuan masker itu harusnya juga diberikan saran. Apakah bisa tetap digunakan jika didouble menjadi dua sampai tiga lapis.

masker scubamasker scuba (Foto: Istimewa)

"Itu sangat disayangkan. Orang Indonesia itu terkenal dengan kreativitas dan uletnya. Untuk menyiasati, itu kan bisa dijadikan tiga lapis. Kasihan mereka yang sudah menyetok banyak. Kalau saya tidak rugi di barang, cuma rugi di omzet saja, tidak ada pemasukan karena ter-cancel, gitu aja," ungkap Sugik.

Sugik mengaku selama ada anjuran tak memakai masker scuba, ia kehilangan penghasilan sekitar Rp 40 juta. Namun dia bisa memahami kebijakan itu demi kesehatan masyarakat dalam pemutus mata rantai penyebaran COVID-19.

"Harus diimbau untuk menambah lapisannya, sedangkan masker scuba sendiri ada berbagai jenis gramasinya atau tingkat kerapatannya berbeda-beda. Harusnya dikeluarkan standarnya juga, satu kain itu kerapatannya berapa. Misalnya seperti helm itu kan ada standar SNI-nya. Harusnya masker kain harus ada SNI-nya juga," ungkap Sugik.

Bahkan saat ini, Sugik mengaku tengah mendapatkan tawaran dari salah satu Dinas Kesehatan di Jawa Timur untuk membuat masker tiga lapis dengan rincian bahan yang telah ditentukan.

"Ini aku dapat penawaran, barusan masuk juga, ada standar kain dari Dinkes, yang terdiri dari lapisan luar itu (kain) drill, dalamnya kain spoonbond, dan yang di dalamya yang nempel di wajah itu kain katun combat. Itu masih penawaran, Dinkes mengeluarkan itu, nggak tahu nanti UMKM jalan lagi (dengan standar itu), nanti dilarang lagi," ujar Sugik.

Sugik berharap ada solusi bagi UMKM tentang masker scuba. Menurutnya, agar tidak gulung tikar, pihaknya berharap ada solusi yang solutif seperti memadukan masker scuba dengan masker medis.

"Kalaupun dibuat dobel, kita masih bisa survive. Coba dibuat dua lapis atau dalamnya dikasih masker medis, jadi duet gitu loh. Jadi pabrik besar sama UMKM bisa jalan dua-duanya gitu lho. Karena yang membuat masker medis itu kan pabrik-pabrik besar dan yang punya alat-alat itu ya pabrik besar. Jangan sampai UMKM ini gulung koming, terus akhirnya tutup. Belum lagi yang jualan di pinggir jalan," tandas Sugik.

(iwd/iwd)