Sanksi Pelanggar Protokol Kesehatan Disebut Tak Efektif, Ini Kata Pakar

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Kamis, 17 Sep 2020 10:26 WIB
Tim gabungan dari Polrestabes Surabaya, TNI, hingga Satpol PP menggelar Operasi Yustisi di Bundaran Waru. Operasi ini menyasar para pengendara yang tidak bermasker. Hukumannya, sita KTP hingga disuruh push up.
Razia masker di Surabaya (Foto file: Deny Prastyo Utomo/detikcom)
Surabaya -

Sejumlah masyarakat yang melanggar protokol kesehatan (Prokes) pencegahan COVID-19 mendapat sanksi beragam. Mulai dari denda, menyanyi, berjoged, push up hingga masuk ke peti jenazah.

Pakar Epidemiologi asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr Windhu Purnomo menyebut sanksi seperti berjoged hingga bernyanyi yang diterapkan di sejumlah wilayah tidak efektif. Bahkan, justru dianggap seperti candaan oleh pelanggar.

"Nah iya apa itu (Sanksi menyanyi, berjoged) itu kan bercanda aja namanya. Itu nggak bener kan," kata Windhu kepada detikcom di Surabaya, Kamis (17/9/2020).

Kendati menyebut operasi yustisi ini bagus dan cukup efektif, namun Windhu menyarankan untuk memberikan hukuman yang lebih tegas dan membuat jera masyarakat agar pelaksanaan operasi semakin efektif.

"Harus lebih tegas lagi, sanksi itu kan yang membuat jera. Nah kalau orang disuruh joged ya dia ketawa-ketawa saja dong, kan cuma joged," ujarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2